Dulu Sering Periksa Gigi

175
EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG
EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG
EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG

NAMA gadis manis ini Febia Astiawati. Ia tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang yang sekarang tengah menjalani pendidikan profesi. Febia berharap lewat profesinya sebagai dokter gigi dapat melakukan hal terbaik kepada banyak orang, terutama dalam penanganan kesehatan gigi dan mulut.

”Sebenarnya waktu kecil cita-cita saya menjadi seorang pramugari. Tapi saat saya kelas II SMA, saya malah inginnya jadi dokter gigi,” kenangnya kepada Radar Semarang, Kamis (26/2).

Gadis kelahiran Semarang, 23 Februari 1993 ini mengaku, keinginannya menjadi dokter gigi tidak datang secara tiba-tiba. Tapi, ketika duduk di bangku kelas II SMA, dia kerap melakukan pemeriksaan gigi dan mulut ke dokter gigi, karena kesehatan giginya waktu itu tak sebagus sekarang.

”Ya, waktu itu pas periksa memang ada beberapa caries (lubang pada gigi) yang ditemukan, saat periksa akhirnya semuanya ditambal. Waktu itu, memang sering sekali makan cokelat dan makanan manis, jadi giginya mudah rusak dan berlubang. Dari situ saya kepikiran kalau jadi dokter gigi sepertinya asyik dan menyenangkan. Sejak saat itu, saya tidak ingin menjadi pramugari lagi, tapi bercita-cita menjadi dokter gigi,” ceritanya.

Dia mengakui, saat masih kecil, mengunjungi dokter gigi untuk melakukan pemeriksaan adalah sesuatu yang menakutkan. Namun ketika dia merasakan sendiri saat periksa, datang ke dokter gigi adalah sesuatu yang menyenangkan.

”Jadi, tahu banyak ketika ke dokter gigi, cara merawat kesehatan gigi yang benar itu bagaimana, dan agar giginya tidak cepat rusak bagaimana. Dari situlah akhirnya selepas lulus SMA, saya ingin masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi agar bisa menjadi dokter gigi nantinya,” katanya.

Menurut dia, informasi cara merawat kesehatan gigi dan mulut saat ini cukup mudah didapatkan, baik melalui televisi maupun media lainnya. Tapi rupanya masih banyak masyarakat, terutama anak-anak yang belum tahu bagaimana melakukan perawatan dan menjaga kesehatan gigi dan mulut yang baik. Bahkan masih ada yang takut berkunjung ke dokter gigi untuk melakukan pemeriksaan.

”Setelah bisa praktik menjadi dokter gigi, saya tidak hanya ingin bisa praktik saja, tapi bisa mengajak dokter-dokter gigi lainnya mengadakan kegiatan sosial seperti pemeriksaan gratis dan menyosialisasikan bagaimana merawat kesehatan gigi dan mulut, terutama pada anak-anak. Biar anak-anak sejak dini sadar akan perawatan gigi dan tidak takut berkunjung ke dokter gigi,” ujarnya. (ewb/aro/ce1)