Diberi Nisan, Ritual Doa Lintas Agama

148

SEMARANG – Kuburan masal di kampung Plumbon Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, yang diduga korban peristiwa 1965 rencananya akan dipasang batu nisan. Dalam pemasangannya nanti bakal diiringi ritual doa lintas agama.

Koordinator Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk HAM (PMS-HAM) Yunantyo Adi S mengatakan, pemasangan batu nisan dan ritual doa sebagai upaya untuk memanusiakan jenazah. Saat ini pihaknya juga menunggu kajian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sebagai upaya rencana penguburan ulang. ”Makanya, kami ajak audiensi Pemkot Semarang untuk meminta saran sekaligus izin pemasangan batu nisan,” ungkapnya usai audiensi antara PMS-HAM yang didampingi agamawan Romo Aloysius Budi Purnomo, dengan Pemerintah Kota Semarang yang diwakili Sekretaris Daerah Adi Tri Hananto, Kamis, (26/2) kemarin.

Menurut Yas, sapaan akrabnya, dalam kuburan tersebut diperkirakan ada 24 korban yang dimakamkan secara masal. Jumlah tersebut didapat dari kesaksian warga setempat. Bahkan, saat ini juga telah diketahui 8 identitas korban dari hasil penyelidikan yang dilakukan PMS-HAM selama kurun Januari-Februari 2015. Hanya saja, ada pihak yang menyebutkan jumlah korban yang dimakamkan sebanyak 12 orang. ”Kalau 8 korban yang diketahui identitasnya itu merupakan warga Kabupaten Kendal. Sebab saat peristiwa terjadi Dusun Plumbon secara administratif memang masuk wilayah Kabupaten Kendal. Makanya, nisan yang akan dipasang di Kuburan Plumbon rencananya dicantumkan nama delapan korban, ditambah kata ”dan kawan-kawan”, mengingat korban-korban lainnya belum diketahui identitasnya,” katanya.

Hal sama juga diungkapkan Romo Budi dari Gereja Kebondalem Semarang. Penemuan makam yang diduga kuburan masal itu harusnya diberi penghormatan yang sepantasnya. Menurutnya, kuburan tersebut harus ditata kembali. ”Ya, harus menata kembali, menjadikan tempat yang pantas kepada mereka. Sekurang-kurangnya membongkar dan memakamkan mereka kembali secara layak. Kalau sementara dipasangi nisan, saya rasa baik,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekda Kota Semarang Adi Trihananto mengapresiasi rencana pemasangan nisan sebagai tanda pemakaman untuk menghindari penyalahgunaan. Menurutnya, tidak kemungkinan kuburan tersebut sering dikaitkan dengan hal yang bersifat mistis. ”Tadi, kawan-kawan meminta izin untuk memasang tanda di makam yang ada. Saya kira, hal yang baik untuk menghindari penyalahgunaan. Kami setuju untuk seyogianya merawat makam dengan baik,” pungkasnya. (mha/zal/ce1)