JUAL PUPUK BERSUBSIDI : Salah satu Kios Pojok di Pasar Bandungan menjual pupuk bersubsidi, penjual bernama Sumi mengaku membeli pupuk jenis ZA, Urea dan Phonska dari petani yang jatah pupuk bersubsidinya masih sisa. (DOK/RASE)
JUAL PUPUK BERSUBSIDI : Salah satu Kios Pojok di Pasar Bandungan menjual pupuk bersubsidi, penjual bernama Sumi mengaku membeli pupuk jenis ZA, Urea dan Phonska dari petani yang jatah pupuk bersubsidinya masih sisa. (DOK/RASE)
JUAL PUPUK BERSUBSIDI : Salah satu Kios Pojok di Pasar Bandungan menjual pupuk bersubsidi, penjual bernama Sumi mengaku membeli pupuk jenis ZA, Urea dan Phonska dari petani yang jatah pupuk bersubsidinya masih sisa. (DOK/RASE)

UNGARAN-Pupuk bersubsidi ditengarai dijual bebas di sejumlah pasar di Kabupaten Semarang dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang telah ditentukan. Bahkan ada dugaan, terjadi pemalsuan pupuk bersubsidi jenis Phonska sebanyak 3 ton yang telah beredar di Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang.

Pantauan Radar Semarang, di Pasar Bandungan beredar pupuk bersubsidi jenis ZA, Urea dan Phonska yang memiliki ciri warna khusus yakni merah muda dan oranye. Salah seorang penjual pupuk dan pestisida Kios Pojok Pasar Bandungan, Sumi, mengaku kulakan pupuk dari seorang petani yang jatah pupuk bersubsidinya berlebih.

“Saya membeli dari petani yang jatah pupuk bersubsidinya berlebih. Karena sudah lewat masa memupuk maka sisanya dijual. Itupun tidak banyak. Saya tidak tahu kalau menjual pupuk bersubsidi ini melanggar aturan,” kata Sumi, 60, warga Bandungan.
Sementara itu, pengecer Resmi Pupuk Bersubsidi Kios Rezeki, Desa Pabelan, Tri Arsi, 40, meminta pemerintah benar-benar mengusut tuntas masalah dugaan peredaran pupuk palsu sebanyak 3 ton di Pabelan. Sebab, jika terbukti palsu maka pupuk yang diedarkan sebelumnya dimungkinkan juga palsu. Kondisi tersebut menurut Tri Arsi akan merugikan petani.

“Jika ada permainan pupuk, termasuk peredaran pupuk Phonska yang diduga palsu yang rugi tentu saja petani. Ini sangat ironis, di saat pemerintah menargetkan kemandirian pangan, ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan pribadi,” kata Tri Arsi, Kamis (26/2) kemarin.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Semarang, Urip Triyogo mengatakan bahwa pihaknya langsung menindaklanjuti laporan adanya dugaan pupuk palsu sebanyak 3 ton di Pabelan termasuk yang di Kecamatan Tuntang. Sehingga, pihaknya langsung menggelar rapat mendadak Komisi Pengendalian Pupuk dan Pestisida (KP3) pagi kemarin untuk menyerap laporan dari lapangan.

“Untuk masalah pupuk Phonska di Desa Semowo, Pabelan, kami langsung menerjunkan tim ke lapangan. Termasuk mengundang pihak Petro (produsen pupuk Phonska) untuk meneliti pupuk tersebut,” tutur Urip Triyogo.

Hasil penelitian di lapangan, ternyata pupuk sebanyak 3 ton tersebut asli Phonska yang dibuat Petro. Hanya saja, warnanya agak berbeda yakni warnanya lebih tua dari warna yang biasa didistribusikan. Selain diteliti, pupuknya juga dilakukan pengecekan dengan melihat register produksi yang tertera pada kantong.

“Pupuknya sama, hanya saja warnanya lebih tua. Jadi petani saat akan memakai, namun warnanya beda, jadi ragu-ragu. Tim dari Petro sudah mengecek pupuk itu asli. Jadi petani tidak perlu resah. Tapi kalau ada kejanggalan, segera lapor ke kami. Memang ada pupuk yang namanya hampir sama, yakni Phoska yang tidak bersubsidi. Ya memang cukup membingungkan,” imbuhnya.
Ditambahkan Urip Triyogo, pihaknya juga sudah menggelar rapat KP3, Kamis (26/2) kemarin untuk menampung laporan masyarakat terkait pupuk. Selain itu, untuk melakukan upaya pantauan dan pengawasan distribusi pupuk.

Distanbunhut akan memperketat pengawasan di sejumlah pasar dan kios pupuk dan obat pestisida. Sebab Distanbunhut mendapatkan laporan adanya peredaran pupuk di luar tempat yang telah ditentukan yakni di pasar-pasar. “Kami akan pantau dan memperketat pengawasan pupuk di lapangan,” pungkasnya. (tyo/ida)