Unas Online, SMPN I Mundur

136

SALATIGA-Sebanyak empat sekolah menengah di Salatiga direncanakan menjadi sekolah percontohan untuk pelaksanaan ujian nasional (Unas) online pada April mendatang. Adalah SMP N 1, SMA N 1, SMK N 2 dan SMK N 3. Namun belakangan, SMP N 1 memilih mundur dan menyatakan belum siap lantaran terkendala sarana dan prasarana.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Salatiga, Gati Setiti mengatakan bahwa penunjukan ke empat sekolah menengah tersebut langsung dari Kementerian Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta. “Ada empat sekolah yang ditunjuk untuk pelaksanaan Computer Base Test (CBT). Namun ini belum final. Pasalnya, setelah kami melakukan survei di lapangan, ada satu sekolah yakni SMP N 1 yang mengaku belum siap secara sarana,” terang Gati kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa siang (24/2) kemarin.

Gati menambahkan, beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain adalah status sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) serta memiliki laboratorium komputer dengan rasio 1 : 3 atau satu komputer untuk tiga siswa.
“Artinya, jika dalam sekolah tersebut ada 300 siswa, maka komputer yang siap digunakan sebanyak 100 unit. Selain itu, kami juga melakukan pengecekan terhadap koneksi internet serta ketersediaan sumber listrik,” ungkapnya.

Gati menambahkan, pelaksanaan ujian nasional akan dilakukan pada 13, 14 hingga 15 April mendatang. Sedangkan untuk pelaksanaan ujian dengan menggunakan CBT akan dilakukan lebih awal yakni tiga hari sebelum tes tertulis.

“Jika nantinya ketiga sekolah tersebut menjadi sekolah percontohan untuk CBI, maka akan dilakukan ujian lebih awal dari sekolah lainnya yang masih menggunakan metode Papper Base Test (PBT) atau tes tertulis. Unas seperti sudah diputuskan oleh kementerian, tidak akan menjadi syarat penentu kelulusan siswa,” pungkasnya.

Sementara itu, terpisah, Kepala SMP N 1 Salatiga, Tris Mardiyoko saat dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya tidak ikut dalam Unas online tersebut. “Ada banyak pertimbangan, khususnya dengan sistem baru serta psikologis anak juga menjadi pertimbangan utama,” terang Tris. Selain itu, program ujicoba tersebut tidak wajib dilakukan jika memang belum siap.

Salah satu guru yang enggan disebutkan namanya mengaku khawatir dengan pelaksanaan ujian tersebut. Berdasarkan pengalaman ujian online yang selama ini dilakukan, bisa dimungkinkan muncul banyak kendala dalam pelaksanaannya. “Misalnya, gambar soal tidak keluar dan sebagainya,” terang guru perempuan ini. (sas/ida)