MAGELANG – Semakin banyak tempat hiburan, sebuah kota akan menjadi daya tarik untuk dikunjungi wisatawan. Seperti halnya Kota Magelang yang kini beroperasi 4 tempat karaoke.

Sebagai kota jasa, jumlah tempat karaoke itu belum dikatakan cukup. Menurut Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Magelang, sebagai kota jasa tidak ada hubungannya dengan jumlah wilayah dan jumlah tempat karaoke.

“Kota jasa harus menyediakan tempat hiburan yang representatif dan lengkap supaya wisatawan tidak kecewa datang ke kota kita,” katanya, kemarin.

Kendati demikian, Hartoko menegaskan, kontek tempat karaoke yang sesuai dengan wilayah Kota Sejuta Bunga adalah karaoke keluarga. Artinya, tidak diperbolehkan menyediakan jasa pemandu lagu (PL), tidak menjual minuman keras (miras) dan konsep room-nya terbuka.

“Terbuka itu maksudnya ada sisi di mana orang lain bisa dilihat siapa saja yang ada di dalam room itu,” jelasnya. Tujuannya, untuk mengetahui aktivitas di dalam room apakah melanggar norma apa tidak. Jika masih ditemukan pelanggaran, maka akan ditertibkan.

Selain itu, lanjut Hartoko, pihak pengelola juga harus memperhatikan jam operasional. Weekdays, pukul 24.00 sedangkan weekend sampai pukul 01.00 dini hari. “Di sini jam 22.00 malam biasanya toko-toko sudah tutup, jadi mereka (wisatawan maupun masyarakat, Red) larinya ke tempat hiburan seperti karaoke itu tadi,” tandasnya.

Dia menilai, semakin banyak tempat hiburan berdiri maka persaingan usaha akan semakin sehat. Namun tetap taat aturan. Dia menegaskan harus sesuai dengan hinder ordonantie (HO) atau surat izin gangguan. “Keberadaan itu tidak boleh mengganggu lingkungan sekitarnya,” tegasnya.

Hartoko mengakui, ke depan, tempat spa juga harus dikembangkan di kota transit ini. “Tidak hanya spa, tapi tempat-tempat lain yang menjadi pendukung pariwisata,” pungkasnya. (put/lis)