Ratusan Kader Geruduk Panti Marhaen

262
MINTA KEJELASAN: Kader PDIP Kabupaten Klaten menggeruduk Panti Marhaen Semarang menuntut kejelasan terkait dengan posisi 11 PAC di Kabupaten Klaten, Rabu (25/2) kemarin. (MIFTAHUL A’LA/RADAR SEMARANG)
MINTA KEJELASAN: Kader PDIP Kabupaten Klaten menggeruduk Panti Marhaen Semarang menuntut kejelasan terkait dengan posisi 11 PAC di Kabupaten Klaten, Rabu (25/2) kemarin. (MIFTAHUL A’LA/RADAR SEMARANG)
MINTA KEJELASAN: Kader PDIP Kabupaten Klaten menggeruduk Panti Marhaen Semarang menuntut kejelasan terkait dengan posisi 11 PAC di Kabupaten Klaten, Rabu (25/2) kemarin. (MIFTAHUL A’LA/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Ratusan kader PDIP dari Kabupaten Klaten menggeruduk Panti Marhaen Semarang. Kedatangan mereka menuntut kejelasan terkait dengan posisi 11 PAC di Kabupaten Klaten. Sebab, ada dugaan kuat kader-kader militan PDIP sengaja disingkirkan dengan tidak dipilih lagi menjadi ketua DPC.

Dengan membawa berbagai spanduk, kader partai moncong putih ini sempat berorasi di depan Panti Marhain Semarang. Mereka membawa spanduk bertuliskan ”Save PDI Perjuangan Klaten”. Massa meminta kejelasan terkait dengan proses pemilihan Ketua PAC di Klaten yang sarat kepentingan. Sebab dari 26 PAC, setidaknya sudah ada isu jika 11 ketua PAC merupakan kader yang tidak berkompeten.

”Justru kader yang sudah memenangkan dan membesarkan partai di Klaten banyak yang disingkirkan. Ada isu yang berkembang jika setidaknya ada 11 PAC yang tidak berkompeten,” kata ketua PAC PDIP Kecamatan Trucuk, Hamenang Wajar Ismoyo, Rabu (25/2) kemarin.

Kedatangan massa itu untuk meminta penjelasan terkait dengan calon ketua PAC yang sudah direkomendasikan DPD PDIP Jateng. Ia takut, jika ketua PCA terpilih nanti tidak berkompeten, justru akan membuat PDIP mengalami kemunduran. Apalagi saat ini sudah memasuki masa Pilkada.

”Ada kader yang sudah mengabdi selama 20 sampai 30 tahun, tapi mereka justru tidak mendapatkan rekomendasi. Ironisnya yang mendapat rekomendasi bukan mereka yang memperjuangan partai,” imbuhnya.

Untuk menjabat sebagai ketua PAC, katanya, ada berbagai kriteria yang sudah ditentukan. Tapi tahun ini, DPD PDIP Jateng menjaring calon ketua PAC se-Jateng dengan menggunakan sistem tes tertulis. Otomatis, sistem pemilihan berbeda dan tidak menutup kemungkinan yang terpilih bukan mereka yang mengabdi untuk partai. ”Kami tidak ingin, mereka bisa jadi ketua PAC karena lolos tes tertulis saja. Tapi harus memenuhi berbagai sarat termasuk dengan lima mantap,” tambahnya.

Hamenang meminta transparansi dari DPD PDIP Jateng untuk membuka secara jelas terkait dengna hasil tes seleksi PAC. Selain itu, kader berharap mereka yang terpilih jadi ketua PAC benar-benar mereka yang berkompeten dan sudah mengabdikan hidupnya untuk kemajuan partai. Meski begitu ia tidak menampik saat ini sudah terjadi dualisme kepemimpinan di tubuh PDIP Klaten. ”Kami ingin semua diperjelas. Agar tidak ada kegaduhan di dalam partai,” tambahnya. (fth/ida/ce1)