Pupuk Bansos Mangkrak, Dewan Akan Sidak

122
RENCANAKAN SIDAK : Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Batang, Sunarto, akan sidak ke lapangan terkait temuan pupuk organik bansos yang bermasalah. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
RENCANAKAN SIDAK : Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Batang, Sunarto, akan sidak ke lapangan terkait temuan pupuk organik bansos yang bermasalah. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
RENCANAKAN SIDAK : Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Batang, Sunarto, akan sidak ke lapangan terkait temuan pupuk organik bansos yang bermasalah. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG-Komisi C DPRD Kabupaten Batang berencana melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke desa-desa. Terkait merebaknya pupuk organik bantuan sosial (Bansos) tahun 2014 senilai Rp 1 miliar yang tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh ratusan petani pada 11 desa di Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang. Kendati begitu,

Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Batang, Sunarto, Rabu (25/2) siang kemarin, mengungkapkan bahwa untuk sementara pihak komisi C belum bisa memberikan teguran pada pihak Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) atau instansi terkait permasalahan pupuk organik. Mengingat informasi yang masuk ke komisi C, masih sangat minim. Pihaknya khawatir terjadi kesalahan informasi, sehingga berpotensi memperkeruh suasana yang semula bertujuan baik.

“Komisi C akan terlebih dahulu membicarakan realisasi bansos pertanian itu di tingkat internal. Setelah informasinya akurat dan mendalam, selanjutnya akan sidak ke lapangan,” ungkap Sunarto.

Selain itu, kata Sunarto, pihaknya akan mencari informasi pada Dinas Pertanian Pemkab Batang dan kelompok petani penerima bantuan. Karena itulah, Komisi C berharap, semua pihak dapat bekerjasama dengan baik, agar permasalahan tersebut tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

“Semua pihak akan kami mintai informasi, agar permasalahan mengenai bansos pupuk organik dapat diselesaikan dengan baik, jika itu memang menjadi sebuah temuan,” kata Sunarto.

Sementara itu, Bupati Batang, Soetadi, bersama dengan tim langsung terjun ke Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem, untuk melakukan investigasi dan melihat langsung ratusan karung pupuk organik dalam kondisi mangkrak dan tidak tersalurkan dengan baik sehingga tidak termanfaatkan.

Menurutnya, hasil investigasi tersebut, ternyata berpangkal dari ketidaktahuan dan kesalahpahaman di tingkat petani akan pupuk organik tersebut. Sedangkan realisasi pengadaan pupuk tersebut, dinilai terlambat karena baru turun setelah aktivitas penanaman dan kondisi material pupuk yang keras membuat petani tidak menggunakannya.

“Petani penerima bantuan pupuk organik, tidak mau mengambil karena mengira sudah terlambat. Padahal, penggunaan pupuk organik tak bergantung pada tahapan usia tanaman. Pupuk organik yang keras itu, ternyata akan mencair juga ketika tersirami air. Dan petani tidak mengetahui tentang hal itu,” jelas Soetadi.

Soetadi juga menandaskan, dengan adanya pupuk organik bansos yang tidak termanfaatkan, banyak permasalahan pertanian yang harus dibenahi. Baik di tingkat petani maupun instansinya. Menurutnya, sebagian pengurus Gapoktan yang merangkap sebagai perangkat desa juga perlu dibenahi.

“Petani sekarang kecenderungannya instan, lebih memilih pupuk kimia untuk alasan keuntungan. Padahal efek dari penggunaan pupuk organik, tidak bisa terlihat langsung. Proses pengendalian dan pendampingan, juga belum optimal,” tandas Wabup Soetadi. (thd/ida)