FOTO: DOK PRIBADI
FOTO: DOK PRIBADI
FOTO: DOK PRIBADI

MEMILIKI darah keturunan Tionghoa menjadikan Yauw Tzishan alias Santika Yohanto Satyanegara paham betul bagaimana memaknai hidup. Ia akan berusaha untuk menjaga kebudayaan leluhur supaya tetap lestari. Salah satunya adalah perilaku hidup kerja keras.

”Kalau bukan kita para anak muda, siapa lagi. Kita harus terus menjaga dan melestarikan kebudayaan leluhur Tionghoa,” ungkap mahasiswi semester 5 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang ini.

Bagi Yauw, sebagai generasi muda tidak cukup hanya menuntut ilmu akademik kemudian kembali pulang ke rumah. Akan tetapi, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara mengisinya dengan berbagai kegiatan yang positif. Salah satunya adalah aktif di organisasi kepemudaan agamanya, Buddha.

”Organisasi ini tidak hanya aktif di wilayah agama saja. Sebagian besar kegiatannya adalah mengembangkan pemuda supaya lebih maju di berbagai bidang,” kata alumni SMA Karangturi yang sekarang menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmahbudhi) cabang Semarang ini.

Melalui Hikmahbudhi, Yauw mengaku pernah didelegasikan untuk mengikuti event internasional bertajuk Consumer Association of Penang (CAP) yang digelar di Penang, Malaysia. Di sana ia banyak belajar bagaimana mengenali konsumen dengan baik. ”Pokoknya seru dan dapat menambah pengalaman,” aku gadis kelahiran 26 September 1993 ini.

Selain aktif di Hikmahbudhi, Yauw juga aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Paguyuban Generasi Lintas Iman (Panglima) Kota Semarang. Dari sanalah ia memahami saling mengisi di antara penganut agama lain itu penting.

”Di Kota Semarang ini kita harmonis, tenang dan sangat menjaga kerukunan lintas iman. Ini perlu dijaga,” tandas penggemar penyanyi Teresa Teng khususnya lagu Ye lai Xiang ini. (fai/aro/ce1)