BUNGKUS BERAS : Salah satu pedagang di Pasar Banjarsari Kota Pekalongan sedang membungkus beras untuk dijual eceran ke konsumen. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
BUNGKUS BERAS : Salah satu pedagang di Pasar Banjarsari Kota Pekalongan sedang membungkus beras untuk dijual eceran ke konsumen. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
BUNGKUS BERAS : Salah satu pedagang di Pasar Banjarsari Kota Pekalongan sedang membungkus beras untuk dijual eceran ke konsumen. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)

Lonjakan kenaikan harga beras, tidak berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan petani. Pasalnya kenaikan harga pupuk justru kian melambung, tidak sebanding dengan kenaikan harga gabah. Demikian juga dengan upah buruh tani yang ikut naik.

PENGURUS Kelompak Tani Makmur Jaya, Kecamatan Warungasem, Bahrudin, kenaikan harga beras, cenderung dinikmati oleh para tengkulak padi dan para distributor beras yang membeli padi dari tengkulak. Sehingga pasokan berkurang, para pengecer dan pedagang beras di pasar tradisional mulai kesulitan dan berdampak pada kenaikan harga.

“Harga gabah kering giling sebelumnya Rp 430 ribu per kuintalnya, kini naik menjadi Rp 490 ribu per kuintal sejak sebulan terakhir. Kenaikan tersebut, karena naiknya harga beras di pasaran. Kali ini kenaikannya cukup bagus,” ungkap Bahrudin.
Bahrudin juga mengatakan, meski harga gabah naik, namun tidak banyak membantu petani. Karena harga pupuk juga ikut naik, bahkan lebih tinggi dari kenaikan harga gabah. Demikian juga dengan buruh tani, ikut naik dari semula Rp 35 per hari, kini menjadi Rp 55 ribu per hari, dengan alasan harga beras juga naik.

Menurutnya petani selalu pada posisi yang dirugikan, karena petani tidak bisa mengendalikan harga pupuk dan harga lainnya, termasuk upah buruh tani di sawah.

”Ketika harga gabah naik, pupuk dan tenaga kerja juga ikut naik. Saat ini, petani boleh dikatakan merugi, meski tidak terlalu banyak,” lanjut Bahrudin, yang mempunyai anggota 70 petani dengan lahan lebih dari 50 hektare.

Teguh Raharjo, 42, mengatakan bahwa kenaikan harga beras disebabkan karena beberapa daerah pemasok belum memasuki panen. Sedangkan daerah yang sudah saatnya panen, justru terkena musibah banjir dan gagal panen, seperti daerah Kabupaten Demak.

Menurutnya, musim hujan juga menjadi salah satu penyebab jumlah pasokan beras berkurang, hingga harga beras di pasaran menjadi tidak terkontrol. Meski harga beras tinggi, penjualan masih stabil. Dalam sehari masih dapat menjual 5 ton beras berbagai jenis dalam sehari.

“Saat ini pasokan beras di kios mengalami penurunan, semula stok beras 200 karung per minggu, kini hanya memiliki stok sekitar 100 karung. 1 karung berisi 25 kilogram,” kata Teguh.

Sedangkan Sekda Kabupaten Batang, Nasikhin, menuturkan bahwa pasokan beras di Kabupaten Batang, tidak mengalami kendala. Bahkan di beberapa tempat justru berlebihan. “Pasokan beras di Kabupaten Batang bagus, bahkan di beberapa daerah justru berlebihan,” tutur Nasikhin.

Sementara itu, melonjaknya harga beras, telah menyebabkan tingginya inflasi di Kota Pekalongan. Guna menekan harga beras yang melambung tinggi, Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan berencana menggelar operasi pasar beras di sejumlah lokasi. Selain itu, akan segera menyalurkan beras untuk rakyat miskin (Raskin).

“Saya akan segera berunding dengan tim inflasi daerah guna menginventarisasi beras yang masuk ke Kota Pekalongan berasal darimana saja. Karena yang terjadi, harga beras naik tapi petani tetap miskin,” kata Wali Kota Pekalongan dr HM Basyir Ahmad usai pembukaan Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) di ruang Amarta Balaikota kemarin.

Basyir menduga ada pihak yang bermain-main di balik meroketnya harga beras dengan menimbun beras di suatu tempat. Pihaknya bersama aparat kepolisian dan pihak lainnya akan segera menelusuri. “Kalau ditemukan, akan kami tindak tegas, karena masalah pangan ini bukan sesuatu yang sederhana, apalagi dipermainkan,” ancamnya.

Sebagai langkah darurat, Basyir akan segera menyalurkan Raskin kepada yang berhak. “Kalau perlu jatah Raskin bulan depan dikeluarkan sekarang, agar harga beras tidak semakin tinggi,” ujar Basyir.

Selain itu bekerja sama dengan Dolog, Pemkot Pekalongan juga akan menggelar operasi pasar setelah mengetahui titik penyebab mahalnya beras. “Kalau perlu, operasi pasar yang seharusnya digelar saat menjelang Lebaran, akan dilakukan secepatnya karena sudah ada dananya,” terangnya. (thd/han/ida)