Dewan Duga Ada Mafia Bermain

139

SEMARANG – Melambungnya harga beras di sejumlah wilayah Jateng membuat DPRD Jateng angkat bicara. Kalangan dewan menduga ada mafia yang bermain sehingga harga beras mahal. Padahal, jika dilihat di sejumlah daerah, sekarang sudah memasuki musim panen. Artinya, secara kalkulasi kebutuhan beras di Jateng masih cukup dan mestinya surplus.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Yudi Sancoyo mengatakan bahwa sejauh ini pihaknya sudah mendapatkan keluhan dari masyarakat. Ia menduga jika mahalnya harga beras, karena ada ulah dari mafia yang bermain. ”Warga banyak yang mengeluh mahalnya harga beras. Ini jelas ada permainan pasar, karen harganya cukup membuat warga kelimpungan,” katanya.

Dugaan adanya mafia yang bermain itu cukup beralasan. Sebab, dari pantauan di daerah ternyata sudah memasuki musim panen. Bahkan panen yang dihasilkan cukup banyak. Komisi B sudah memantau di Demak, Kudus dan Jepara. ”Jika dilihat panennya cukup melimpah dan luar biasa. Jadi secara logika jelas mencukupi dan bahkan bisa surplus,” imbuhnya.

Politisi Partai Golkar ini menambahkan, dalam waktu dekat akan memanggil dinas terkait. Mulai Dinas Pertanian, Dinas Perdangan dan Biro Produksi. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kemana beras di Jateng bisa tinggi, padahal sudah memasuki musim panen. ”Beras Jateng ini ke mana larinya, kok bisa harganya melambung. Padahal biasanya ketika musim panen, harga turun,” tambahnya.

Kenaikan harga beras ini sudah terjadi di sejumlah wilayah Jateng. Harga beras C4 yang awalnya Rp 9.000 per kg, kini menjadi Rp 12.000 per kg; beras jenis Pandan Wangi yang awalnya Rp 11 ribu per kg menjadi Rp 13 ribu per kg. Kenaikan harga ini berkisar antara Rp 1.500 sampai Rp 2.000 per kg.

”Padahal harga eceran tertinggi yang dipatok secara nasional Rp 6.500 per kg. Tapi kalau sudah masuk angka Rp 13 ribu sudah luar biasa,” tambah anggota Komisi B DPRD Jateng, Ikhsan Mustafa.

Dewan menegaskan harus ada operasi pasar menyikapi mahalnya harga beras di Jateng. Sebab, beras merupakan bahan pokok kebutuhan setiap orang. Ketika harganya mahal, jelas rakyat kecil yang akan sengsara. ”Jateng selalu surplus beras, mestinya harga tidak mahal. Kasihan rakyat,” tambahnya. (fth/ida/ce1)