Sopir Sang Engon Akui Tambah Kecepatan

201
LAYAK JALAN: Petugas Dishubkominfo Kota Semarang melakukan pengecekan terhadap bangkai bus Sang Engon di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) kelas 1 Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
LAYAK JALAN: Petugas Dishubkominfo Kota Semarang melakukan pengecekan terhadap bangkai bus Sang Engon di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) kelas 1 Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
LAYAK JALAN: Petugas Dishubkominfo Kota Semarang melakukan pengecekan terhadap bangkai bus Sang Engon di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) kelas 1 Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Sopir bus Sang Engon, Muhammad Husen, 56, diperiksa di Mapolrestabes Semarang sebagai tersangka atas insiden kecelakaan maut yang menewaskan 18 penumpang. Selama kurang lebih 1,5 jam, ia dicecar kurang lebih 20 pertanyaan oleh penyidik.

Kendati demikian, pemeriksaan belum tuntas, warga Gudang Stasiun RT 04 RW 08, Babat, Lamongan, Jawa Timur, itu mengeluh sakit akibat luka yang dideritanya. Sehingga pemeriksaan tersebut kembali ditunda. Husen akhirnya kembali dibantarkan ke RS Bhayangkara Semarang. ”Tersangka diperiksa 1,5 jam, ada sekitar 20 pertanyaan seputar kronologi kecelakaan,” kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono di Mapolrestabes Semarang, Selasa (24/2).

Tersangka tiba di Mapolrestabes Semarang pada Senin (23/2), sekitar pukul 16.00. Pemeriksaan dilakukan pukul 18.00 hingga 19.30. ”Dia mengeluh kesakitan karena cedera yang dialami sehingga harus dibantarkan lagi ke RS Bhayangkara,” terang Djihartono.

Usai diperiksa, tersangka sempat diistirahatkan di sel tahanan Mapolrestabes Semarang. Hingga Selasa (24/2), sekitar pukul 11.30, Husen yang mengenakan kemeja kotak-kotak merah dan sarung biru dikawal petugas langsung masuk ke mobil laka lantas untuk dibawa ke RS Bhayangkara.

Dijelaskan Djihartono, tersangka dalam pengakuannya mengetahui medan dan tancap gas saat melintasi lokasi kejadian. Karena menurutnya ada tanjakan setelah tikungan. Pengakuan itu, menurut Djihartono, berbeda dengan kondisi asli lokasi kejadian. Sebab, di Jalur Lingkar Jangli Tol Jatingaleh KM 9.300 berbentuk tikungan menurun. ”Hal itu menunjukkan dia tidak paham lokasi. Padahal tidak ada tanjakan, melainkan turunan,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan Djihartono, Husen sebenarnya sudah diperingatkan oleh penumpang agar mengurangi kecepatan. Namun ia tetap tidak menghiraukan. ”Hal itu berdasarkan keterangan saksi selamat yang sudah diperiksa,” katanya.

Selama diperiksa, tersangka juga mengaku melaju dalam kecepatan rendah. Namun fakta di lapangan menyebut saat terjadi kecelakaan, bus tersebut dalam posisi gigi lima. ”Pemeriksaan akan kembali dilakukan jika kondisi fisik Husen sudah membaik,” imbuhnya. Sedangkan, pemilik bus PO Sang Engon juga akan diperiksa Rabu (25/2), hari ini. ”Diperiksa sebagai saksi,” katanya.

Sementara itu, petugas Dishubkominfo Kota Semarang melakukan pengecekan terhadap bangkai bus Sang Engon di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) kelas 1 Semarang. Secara teknis, bus tersebut dinyatakan layak jalan. ”Kami sudah melakukan tiga tahap pengecekan. Termasuk visual luar di jalan tol, percobaan pengereman, dan pembongkaran roda dan kampas rem. Secara teknis, kondisi bus layak jalan,” kata Kasi Keselamatan dan Teknis Sarana Dishubkominfo Kota Semarang, Mukindar, kemarin.

Selain itu juga telah dilakukan uji coba sebanyak 14 kali pengereman masih berfungsi. Mengenai ketebalan ban juga dinyatakan layak. ”Ketebalan rem masih 2,2 mili. Masih layak sekali, 1,2 mili saja masih bisa. Armada bus tersebut keluaran tahun 2013,” katanya. (amu/zal/ce1)