Sistem Paket Ubah Strategi Politik

244

BALAI KOTA- Sistem paket antara calon wali kota dan wakil wali kota dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) dalam revisi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) berdampak terhadap peta politik yang selama ini dibangun oleh sejumlah partai politik (Parpol) di Kota Semarang. Sebab, selama ini parpol telah menyusun skema yang cenderung fokus mencari sosok wali kota saja.

“(sistem) Paket bisa mengubah peta politik yang selama ini telah dibangun. Karena hampir semua teman-teman partai selama ini masih melihat sistemnya itu pemilihan wali kota saja (tidak paket). Sehingga yang diperhitungkan hanya elektabilitas wali kotanya saja. Kalau wakil tidak perlu dipublikasikan atau dikampanyekan secara formal. Sebab sebelum direvisi, wakil ditunjuk oleh wali kota setelah jadi,” terang Ketua DPC PAN Kota Semarang, Wachid Nurmiyanto, kemarin.

Menurutnya, ketika pemilihan wali kota saja, aspek elektabilitas sangat dominan. Namun sekarang, ketika paket, elektabilitas sosok wali kota dan wakil sangat penting. “Sosok wakill juga sangat mempengaruhi masyarakat untuk memilih. Berarti kita perlu berpikir ulang,” katanya.

Oleh karena itu, perlu diperhitungkan dengan matang terkait sosok wali kota dan wakil wali kota yang akan diusung dalam bursa Pilwalkot Semarang akhir 2015 mendatang. Sisi popularitas dan elektabilitas harus sama-sama kuat. “Sosok wakil seharusnya bisa mendongkrak elektabilitas wali kota. Tapi kalau kita salah memilih wakil bisa jadi elektabilitas calon wali kota yang sebelumnya tinggi justru menjadi rendah, gara-gara figur wakilnya,” tandas Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang itu.

Meski merubah peta politik, lanjut Wachid, namun selama ini pihaknya telah memiliki pertimbangan dan ancang-ancang ketika ada revisi Perppu dan disahkan. Termasuk dalam hal berkoalisi. Selama ini PAN dan Gerindra telah memiliki kesepahaman yang sama yang telah dituangkan dalam MoU. “Kemarin diawali dari PAN dan Gerindra dulu, tapi masih membuka kesempatan untuk bergabung dengan partai lain. Kami tetap komunikasi dengan partai lainnya, sehingga perlu disamakan arahnya dulu, visi dan cara pandang seperti apa,” terangnya.

Wachid memprediksikan, dalam bursa Pilwalkot Semarang mendatang akan muncul tiga calon. Untuk mencapai sebuah kemenangan, sosok kandidat kepala daerah dan mesin partai harus bisa seimbang. “Selain elektabilitas calon, mesin partai juga penting. Mudah-mudahan saja kalau ada kesamaan visi (partai koalisi) mesin partai bisa berjalan secara sinergi untuk mengakselerasikan dan memberikan percepatan terhadap tingkat elektabilitas calon yang diusung,” tandasnya.

Politisi Partai Gerindra Joko Santoso juga mengatakan hal yang sama. Sistem paket akan mempengaruhi formula pemenangan Pilwalkot. “Memang kalau kemarin formula yang disiapkan calon tunggal, dengan dua wakil wali kota. Tetapi kalau menggunakan sistem paket, strategi yang kita rancang pasti berubah. Tentunya dari sisi strategi mengubah peta juga. Yang jelas kita akan coba buat strategi baru,” tandas Wakil Ketua DPRD Kota Semarang ini.

Terpisah, pihak PDIP tidak begitu kaget dengan sistem paket. Pasalnya, dari awal penjaringan calon, DPC PDIP Kota Semarang telah membuka pendaftaran untuk calon wali kota dan wakil wali kota. “Tidak begitu berpengaruh, karena selama ini kita juga telah menyiapkan sistem paket,” tandas Sekretaris DPC PDIP Supriyadi. (zal/aro)