KRITISI PARPOL: Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Hendro Prasetyo (kiri) saat memaparkan hasil surveinya di Hotel Pandanaran, kemarin. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
KRITISI PARPOL: Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Hendro Prasetyo (kiri) saat memaparkan hasil surveinya di Hotel Pandanaran, kemarin. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
KRITISI PARPOL: Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Hendro Prasetyo (kiri) saat memaparkan hasil surveinya di Hotel Pandanaran, kemarin. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Proses regenerasi partai politik (parpol) saat ini dinilai belum berjalan maksimal. Terbukti, tokoh-tokoh yang dimunculkan selalu didominasi oleh golongan lama. Misalnya PAN selalu identik dengan Hatta Rajasa, Partai Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Gerindra dengan Prabowo Subianto, dan Golkar dengan Aburizal Bakrie.

Hal itu diungkapkan Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Hendro Prasetyo dalam diskusi publik dengan tema ”Regenerasi Politik dan Peran Veto Player di Partai Politik” yang digelar di Hotel Pandanaran Semarang, Selasa (24/2). Hadir juga sebagai pembicara Ketua DPD PDIP Jateng Heru Sudjatmoko, Ketua DPW PKB Jateng Yusuf Chudlori, Ketua Fraksi Golkar DPRD Jateng Farida Rahma, dan pengamat Komunikasi Politik FISIP Undip Triyono lukmantoro.

Hendro menjelaskan, hasil survei menunjukkan 61,7 persen masyarakat setuju tokoh muda mampu memberi kontribusi dalam perkembangan bangsa. Hanya saja, dari partai politik tidak memberikan kesempatan itu. Selain itu, karena kurangnya informasi membuat masyarakat hanya mengenal tokoh yang itu-itu saja. ”Bisa jadi dalam hal ini peran dari media sangat besar. Sebagian besar masyarakat tidak memiliki informasi dari parpol namun cenderung mengandalkan informasi dari media,” imbuhnya.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 10-18 Januari dengan 1.220 responden, diketahui bahwa parpol yang ada saat ini belum banyak memperjuangkan kepentingan rakyat. Tercatat, sebanyak 52,8 persen responden menilai parpol sekarang lebih banyak memperjuangkan kepentingan sendiri untuk mendapatkan jabatan atau kekuasaan daripada kepentingan rakyat. Sementara 33,8 persen responden memberikan penilaian parpol masih memperjuangkan kepentingan rakyat dan 13,4 persen responden menyatakan tidak tahu.

”Fungsi partai sebagai saluran aspirasi rakyat dalam hal ini belum optimal karena setiap parpol harus memiliki tiga sifat utama yaitu memperhatikan kepentingan rakyat, memiliki program yang bagus bagi kesejahteraan rakyat, dan mewakili semua lapisan masyarakat,” bebernya.

Adapun tingkat kedekatan masyarakat terhadap parpol di Indonesia juga terbilang sangat rendah. Berdasarkan survei, hanya 16 persen rakyat Indonesia yang merasa dekat dengan parpol. Menurutnya, kader PDIP memiliki kedekatan tertinggi dengan partainya dengan 33,1 persen. Urutan kedua ditempati oleh masyarakat yang merasa dekat dengan Partai Golkar yakni sebesar 14,5 persen. Dan ketiga Partai Gerindra dengan kedekatan 14,3 persen.

”Ini adalah sebuah ironi. Di negara maju, misalnya Amerika Serikat, sebagian besar masyarakat memiliki kedekatan dengan parpol. Mereka tidak segan-segan menegaskan bahwasanya dirinya Republik atau Demokrat,” pungkasnya.

Sementara itu, hal yang tak jauh beda juga diungkapkan Triyono Lukmantoro. Menurutnya, hampir seluruh nama-nama pimpinan parpol saat ini adalah nama-nama lama. Mereka masih terus bertahan karena tidak ingin digantikan dengan yang lebih muda. Seolah-olah merekalah yang mampu menjaga stabilitas dan kendali partai, ”Seharusnya para pemain lama dalam sebuah partai itu segera ikhlas memberikan tempatnya,” terangnya.

Meskipun kemudian muncul nama Joko Widodo, menurut Triyono, hal itu lantaran ia menjabat sebagai Presiden. Jika yang bersangkutan masih sebagai Gubernur DKI Jakarta belum tentu popularitasnya tidak seperti saat ini. ”Regenerasi parpol belum terjadi dengan baik,” tandasnya. (fai/ric/ce1)