PLURALISME : Khoirul Umam, 37, dosen Universitas Darussalam Gontor Ponorogo dalam seminar di Pondok Pesantren Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, kemarin (24/2). (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PLURALISME : Khoirul Umam, 37, dosen Universitas Darussalam Gontor Ponorogo dalam seminar di Pondok Pesantren Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, kemarin (24/2). (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PLURALISME : Khoirul Umam, 37, dosen Universitas Darussalam Gontor Ponorogo dalam seminar di Pondok Pesantren Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, kemarin (24/2). (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

TUNTANG—Maraknya aliran Islam garis keras di Indonesia, harus diminimalisasi melalui pendidikan agama sejak dini. Anak perlu dibekali pendidikan agama tapi tanpa memisahkan dengan wawasan kebangsaan. Kesadaran berbangsa nantinya akan menyadarkan anak tentang arti pluralitas. Sehingga ketika dewasa, tidak mudah terpengaruh aliran ekstrim.

“Pengenalan pluralitas kepada anak sangat penting. Nantinya, anak ketika dewasa ada keinginan memperdalam pengetahuan agama, tahu siapa yang harus dijadikan guru. Dan buku apa saja yang perlu dijadikan refrensi,” kata Khoirul Umam, 37, dosen Universitas Darussalam Gontor Ponorogo di hadapan 200 peserta seminar yang digelar di Pondok Pesantren Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang, kemarin (24/2).

Menurutnya, saat ini ada indikasi, kebanyakan pengikut aliran garis keras adalah orang-orang yang baru tahu tentang agama. Sedangkan pluralitas adalah satu keniscayaan yang harus diterima. Karena Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda.

“Tapi pluralisme masih perlu dipertanyakan. Karena akibat pluralism, bisa menimbulkan kesalahpahaman. Mencoba mengganggap semua agama sama, padahal tidak boleh memaksakan kepada orang lain bahwa agama kita sama. Biarlah orang lain menganggap agamanya yang paling benar. Saya juga berhak mengakui agama saya yang paling benar. Hanya saja, jangan saling mencerca,” tandasnya.

Sementara Pengurus Yayasan Edi Mancoro, Muhammad Hanif, 34, mengatakan Edi Mancoro adalah salah satu tempat di Jawa Tengah yang sering menjadi tempat dilakukannya diskusi lintas agama. Meskipun terletak di Kabupaten Semarang, banyak tokoh-tokoh lintas agama dari Salatiga yang datang ke tempatnya.

“Salatiga dan Kabupaten Semarang memang penduduknya sangat plural. Maka dengan adanya diskusi lintas ini, akan memupuk persaudaraan antar tokoh agama. Ditambah saat ini Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sudah berada di mana-mana. Dan ini adalah satu wadah untuk menghindari konflik beragama,” pungkasnya. (abd/ida)