BARUSARI – Proses penyidikan kasus dugaan pembobolan rekening nasabah Bank Mandiri Cabang Jalan Pemuda Semarang senilai Rp 8 miliar atas nama Sri Rahayu, oleh petugas Reserse Mobile (Resmob) Polrestabes Semarang jalan ditempat.

Sejak dilaporkan tanggal 16 September 2014 lalu hingga kini progres proses hukum kasus ini belum ada perkembangan signifikan. Bahkan pihak korban mencium gelagat penyidik diduga ”main mata” dengan pihak terlapor. Sehingga kasus dengan nomor LP/1489/XI/Jateng/2014/Restabes ini ”dihentikan” tanpa kepastian hukum yang jelas.

Padahal belakangan, proses hukum kasus ini berjalan cukup baik. Pihak penyidik sempat menaikkan tahap dari penyelidikan ke penyidikan. Bahkan pihak penyidik menyatakan akan memeriksa pihak Bank Mandiri untuk dimintai keterangan. ”Kami mencium gelagat tidak baik di pihak penyidik Polrestabes Semarang. Penyidik terindikasi ’main mata’ dengan pihak terlapor. Yang dikhawatirkan, ujung-ujungnya uang. Sehingga menggantungkan atau menghentikan tanpa proses hukum yang jelas,” kata korban Widiyanto Agung Widodo didampingi kuasa hukumnya, Endang Sulistyowati, kepada wartawan di Mapolrestabes Semarang, Senin (23/2).

Dikatakan Widiyanto, Kasat Reskrim AKBP Sugiarto sendiri telah mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) pada awal Januari 2015 lalu. ”Sempat ada peningkatan tahap, dari tahap penyelidikan ke penyidikan,” katanya.

Bahkan korban juga telah menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dengan nomor B/56/1/2015/Reskrim, tertanggal 15 Januari 2015. Dalam surat itu dijelaskan bahwa Direktur PT Semarang Makmur Teguh Santoso selaku terlapor, telah mengakui melakukan pengambilan uang di nomor rekening 135-00-1140118 atas nama nasabah Sri Rahayu Binti Soemoharmanto senilai Rp 8 miliar. ”Hal itu sesuai dengan barang bukti print out transaksi keluar dan masuk uang, yang diberikan oleh pihak Bank Mandiri,” beber Widiyanto.

Selain itu juga ada barang bukti berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu atas nama Sri Rahayu, yang digunakan oleh terlapor untuk mencairkan uang tersebut. ”Bukti-bukti unsur pidana pencurian uang dalam rekening bank ini sudah sangat kuat. Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) sudah dikeluarkan. Tapi anehnya, penyidik Resmob Polrestabes Semarang tidak menetapkan tersangka. SPDP itu juga tidak dikirimkan ke pihak kejaksaan,” ungkapnya kesal.

Widiyanto menduga, penyidik yang menangani kasus ini telah terkena ”virus intervensi” dari pihak terlapor. ”Tiba-tiba penyidiknya melempem. Ini kan aneh. Bahkan ada indikasi mau diturunkan atau dikembalikan ke proses penyelidikan dengan dalih belum cukup bukti. Wah, ini ada penyidik yang enggak beres,” ujarnya.

Atas lambatnya penanganan kasus yang ditangani Resmob Polrestabes Semarang ini, Widiyanto menulis dan mengirimkan surat terbuka untuk Kepala Bareskrim Mabes Polri melalui media online kompasiana.com. ”Saya mengadu kepada Mabes Polri karena penyidik Resmob Polrestabes Semarang terindikasi tidak beres dan main mata dengan terlapor,” katanya.

Kuasa Hukum Endang Sulistiyowati mengaku telah menyiapkan langkah hukum selanjutnya jika penyidik Polrestabes Semarang main-main dalam kasus ini. ”Jika diperlukan, kami bisa ajukan praperadilan,” ujarnya.

Pihaknya berharap, penyidik Polrestabes Semarang menjalankan tugasnya yakni melakukan proses hukum agar berjalan sesuai prosedur. ”Kasus ini sebenarnya simpel, yakni tindak pidana pencurian uang di rekening. Pembuktiannya sangat mudah. Sebab, bukti awal sudah lebih dari cukup, ditambah pengakuan terlapor. Tapi ada apa penyidik Polrestabes Semarang malah berusaha menggantungkan kasus ini?” tandasnya mempertanyakan. (amu/zal/ce1)