Bikin Homestay, Gratis Bagi Komunitas Khusus

167
NATURAL: Hilda di bawah salah satu homestay yang disiapkannya bagi tamu di Dusun Krajan Kandangan. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
NATURAL: Hilda di bawah salah satu homestay yang disiapkannya bagi tamu di Dusun Krajan Kandangan. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)
NATURAL: Hilda di bawah salah satu homestay yang disiapkannya bagi tamu di Dusun Krajan Kandangan. (ISSATUL HANI’AH/RADAR KEDU)

Desa kerap tak lagi dianggap punya pesona. Generasi muda saat ini, lebih silau dengan kehidupan kota. Imbasnya, desa menjadi semakin terpuruk, karena tak mendapat sentuhan ide kreatif para kaum muda. Prihatin dengan hal itu, Hilda Kurniawan, warga Kandangan, 31, membentuk sebuah komunitas yang misinya mengembalikan potensi desa. Seperti apa?

ISSATUL HANI’AH, Temanggung

“SEKARANG orang mulai lupa kalau sebenarnya desa itu punya banyak sekali potensi. Karena apa, karena menurut orang sekarang, semua yang baik itu ada di kota. Lingkungan harus seperti kota, membangun rumah harus seperti di kota di sinetron. Ini harus diubah,” katanya.

Prihatin dengan pola pikir seperti itu, Hilda—begitu pria ini intim disapa—bersama sejumlah temannya membentuk sebuah komunitas. Tepatnya, sebuah kelompok. Misi kelompok ini menyerukan konservasi pedesaan.

mereka giat mengubah pola pikir masyarakat. Salah satunya, dengan memberikan sosialisasi hingga memberi contoh. Meski baru bergerak setahun, Hilda dan kawan-kawannya begitu intens merealisasi misi dan visinya.

Mereka lantas membuka persewaan tempat dengan nuansa khas pedesaan. Salah satunya, menyediakan homestay berupa rumah-rumah panggung berbahan bambu dan beratap welit. Homestay berada di Dusun Krajan 1 RT2 RW 7 Desa Kandangan-Temanggung.

Pengunjung yang datang untuk menikmati nuansa pedesaan, tetap dipungut biaya. Namun bagi mereka yang berkunjung untuk menginap sambil mengadakan kegiatan dengan visi yang sama, Hilda menggratiskan.

Sesuai kesepakatan, ada tiga program yang ditawarkan. Yaitu, program lihat, program terlibat, dan program become a friend. Dalam program lihat, bagi pengunjung yang datang hanya untuk berlibur dan menikmati suasana khas desa, maka wajib membayar utuh biaya menginap.

Sementara untuk program terlibat, yaitu komunitas yang menyewa untuk melaksanakan kegiatan pengembangan desa dan edukasi, maka hanya dibebankan biaya 80 persen.

Sedangkan bagi mereka yang telah masuk dalam lingkaran become a friend, bebas biaya inap. Yaitu, mereka yang menyukseskan dan berpartisipasi setiap kali komunitas Hilda menggelar even.

“Berbagai kegiatan banyak yang digelar di sini. Misalnya komunitas fotografi, lalu kegiatan membatik juga ada. Kalau memang kegiatannya bertujuan mengembangkan potensi desa dan edukasi, kami siap membantu dan memfasilitasi,” tambahnya.

Pada Mei mendatang, bahkan akan diselenggarakan pertemuan tingkat internasional antar-pemerhati pedesaan di “kampung desa” milik Hilda. Dalam even tersebut, orang sekitar akan dilibatkan untuk mendapatkan materi mengenai perlunya memperdayakan desa. Materi-materi akan disampaikan oleh pemateri dalam dan luar negeri.

“Kawan-kawan kami dari Jepang, Australia senang sekali bergabung dengan even tersebut. Mereka akan memberikan materi yang akan mengubah pola pikir masyarakat untuk tidak senantiasa pada kota. Bahwa untuk hidup sejahtera orang bisa mendapatkannya dari lingkungan sekitar. Dari pertanian, dari perkebunan,” tandasnya. (*/isk)