Bikin Film Indie, Bayar Talent dengan Saweran

197
KOMPAK: Komunitas Film Wolfy Semarang berfoto bersama usai syuting film indie di Lapangan Simpang Lima. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
KOMPAK: Komunitas Film Wolfy Semarang berfoto bersama usai syuting film indie di Lapangan Simpang Lima. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
KOMPAK: Komunitas Film Wolfy Semarang berfoto bersama usai syuting film indie di Lapangan Simpang Lima. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

Sejumlah sineas muda Kota Semarang tergabung dalam Komunitas Film Wolfy Semarang. Mereka mencoba membangkitkan dunia perfilman Kota Atlas dengan membuat film indie. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

SIANG itu, matahari bersinar cukup terik. Sejumlah pemuda tampak berkumpul di Lapangan Simpang Lima Semarang. Seorang di antaranya menenteng kamera DSLR lengkap dengan tripot. Dua orang lainnya sedang asyik ngobrol di depan kamera. Sementara yang lainnya berkerumun menyaksikan proses syuting film tersebut sembari membantu sang juru kamera mengarahkan talent saat berakting.

Ya, begitulah suasana saat belasan anggota Komunitas Wolfy Semarang tengah menyelesaikan adegan film indie yang mereka buat. Mereka nampak bersemangat untuk menghasilkan sebuah karya film yang berkualitas sekalipun dengan peralatan terbatas.
Komunitas Wolfy sendiri terdiri atas 13 anggota inti yang semuanya mahasiswa Universitas PGRI Semarang. Komunitas ini berusaha membuat karya seni yang tidak terpaku dengan tugas kampus maupun ekstrakurikuler film di kampus tersebut.

Ketua Komunitas Film Wolfy Semarang, Avisina Andriyan, mengatakan, komunitas ini terbentuk belum lama. Awalnya, hanya sebagai bentuk protes terhadap aturan dan batasan-batasan dari pihak kampusnya yang kurang memberikan kebebasan dalam berkarya. ”Kalau minjem peralatan seperti kamera dan lainnya milik kampus pasti hanya boleh kalau untuk bikin company profile kampus, ataupun profil dosen. Padahal kami ingin membuat karya seni yang bisa berbicara dan mengangkat nama harum kampus. Hal itulah yang menjadi alasan berdirinya komunitas ini,” katanya saat ditemui Radar Semarang di sela syuting film indie di Lapangan Simpang Lima kemarin.

Avisina kemudian bertemu dengan teman lainnya sesama mahasiswa Universitas PGRI yang juga satu visi. Akhirnya, pada awal 2015 lalu, mereka sepakat mendirikan Komunitas Film Wolfy. Begitu terkumpul anggota sekitar 13 orang, mereka sepakat untuk membuat film indie. Anggota komunitas ini belajar membuat film secara otodidak dengan alat seadanya.

”Kami belajar secara otodidak dari membaca buku dan praktik sendiri tentang pergerakan kamera, pengambilan angle, penyusunan naskah skenario, dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Sering berjalannya waktu, akhirnya komunitas ini mencari dana untuk pengadaan alat dengan menjual kaus ataupun patungan dari para anggota. Selama belum bisa membeli kamera, ada anggota yang meminjamkan kamera DSLR miliknya untuk belajar syuting film. Baru setelah terkumpul uang, mereka akhirnya membeli sebuah kamera, dan mulai membuat film indie dengan skenario yang dibuat oleh salah satu anggota setelah melakukan riset.

”Memang sih masih amatir, peralatan juga seadanya. Naskah dibuat oleh mahasiswa sastra yang ikut masuk komunitas ini. Sementara peralatan lain seperti tripod kami buat seadanya dengan bantuan anggota dari mahasiswa teknik,” katanya.

Setelah terkumpul alat, mereka pun nekat membuat sebuah film indie yang menceritakan sisik melik gaya hidup masyarakat urban di Kota Semarang. Sebelum membuat naskah skenario, mereka melakukan riset agar film yang dibuat tidak hanya sebuah film fiktif belaka.

”Riset perlu dalam sebuah film, kami pun terjun langsung ke lapangan guna mencari informasi dan sisik melik gaya hidup perkotaan. Semuanya kami lakukan dengan dana sendiri lewat saweran,” kenangnya.

Satu hal yang membuat komunitas ini tetap semangat di balik keterbatasannya adalah keinginan untuk memajukan industri film indie di Semarang. Selain itu, juga ingin terus berkarya dan membuktikan kepada semua orang, bahwa di balik keterbatasan yang ada, sebuah karya bisa muncul dengan landasan semangat dan tekad yang kuat.

”Dukanya sih sebagai amatir jelas kita pasti dianggap enteng. Tapi yang namanya hobi, walaupun sulit dan dengan budget seadanya kita tetap semangat dan membulatkan tekad,” katanya.

Saat ini Komunitas Wolfy sedang membuat sebuah film yang menceritkan kisah cinta dua orang sesama jenis yang semakin marak. Mereka menggandeng talent yang masih teman kuliah sendiri. ”Talent teman kami masih kuliah, meski begitu kami bekerja secara profesional. Kami tetap membayar talent dengan patungan dari uang saku kami,” ujarnya.

Terkait film yang masih dalam proses penggarapan, Avisina membocorkan jalan cerita film tersebut menceritakan tentang seorang cewek yang sering disakiti oleh cowok, hingga menjadi frustrasi. Nah, saat frustrasi itu, si cewek menemukan kedamaian dan kenyamanan dengan sesama jenis dan terjadilah cinta terlarang.

”Memang ada fenomena nyata seperti itu di lapangan. Kami mencoba memberi gambaran dan pembelajaran kepada orang tua untuk lebih memperhatikan pergaulan anaknya. Rencananya, film ini akan diputar di kampus dan ikut dalam pemutaran film indie di Semarang dan kota lainnya,” katanya.

Ditanya perkembangan film indie di Semarang yang jauh tertinggal dengan kota besar lainnya, ia pun tak menampiknya. Menurut dia, hal itu lantaran belum ada campur tangan dan dukungan dari pemerintah kota untuk memberikan ruang gerak bagi sineas muda di Kota Semarang berkarya.

”Minimal ada tempat untuk memutar film yang dibuat. Selain itu juga ada perhatian dari pemerintah, bisa berupa lomba ataupun parade film yang menceritakan objek wisata ataupun keunikan Semarang,” ujarnya.

Meski komunitas film ini terbilang baru, mereka bercita-cita mengikutkan film indie karyanya di tingkat nasional dan internasional. ”Saat ini kami ingin menyelesaikan karya kami dulu, setelahnya itu kami berencana ikut lomba Eagle Award di Metro TV untuk membutikan bahwa sineas muda Semarang bisa berbicara di tingkat nasional,” katanya. (*/aro/ce1)