TERCEMAR LIMBAH PABRIK : Siswa SD Wonorejo 04, Pringapus Kabupaten Semarang terpaksa menutup hidup lantaran bau tak sedap yang tercemari asap dari cerobong pabrik pengolahan kayu dan mebel PT Pinako Rotary Permai di Jalan Candirejo Pringapus. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
TERCEMAR LIMBAH PABRIK : Siswa SD Wonorejo 04, Pringapus Kabupaten Semarang terpaksa menutup hidup lantaran bau tak sedap yang tercemari asap dari cerobong pabrik pengolahan kayu dan mebel PT Pinako Rotary Permai di Jalan Candirejo Pringapus. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
TERCEMAR LIMBAH PABRIK : Siswa SD Wonorejo 04, Pringapus Kabupaten Semarang terpaksa menutup hidup lantaran bau tak sedap yang tercemari asap dari cerobong pabrik pengolahan kayu dan mebel PT Pinako Rotary Permai di Jalan Candirejo Pringapus. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

PRINGAPUS-Pabrik pengolahan kayu dan mabel, PT Pinako Rotary Permai di Jalan Candirejo Pringapus, Kabupaten Semarang diprotes warga. Lantaran, diduga kuat limbahnya mencemari lingkungan sekitar.

Bahkan polusi udara berupa asap hitam pekat dan berdebu dari cerobong pabrik sempat menganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) SDN Wonorejo 04, yang lokasinya tidak jauh dari pabrik. Selain itu, permukiman warga juga tercemar asap pabrik yang disertai debu. Tidak sedikit siswa, guru dan warga yang mengalami sesak nafas dan gatal-gatal.

Kepala SDN Wonorejo 04, Etik Sutiyarti mengatakan bahwa pihaknya menjabat kepala sekolah sejak tahun 2012. Sejak saat itu, dirinya sudah merasakan ada pencemaran udara. Etik menduga, pencemaran udara tersebut bersumber dari pabrik Pinako yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari sekolahnya.

Bau tak sedap dari cerobong pabrik itu berwarna hitam pekat disertai debu selalu masuk ke kompleks sekolah dimana 230 siswa mengikuti pelajaran. “Kami pernah membatalkan upacara bendera, karena asap pekat sekali dan debunya membuat sesak nafas. Kaca dan lantai saja sampai menghitam penuh debu. Saya sempat memotret dan mengambil sampel debu sebagai bukti,” tutur Etik, Senin (23/2) kemarin.

Etik menambahkan, tidak hanya sekolah yang dirugikan, tetapi warga sekitar juga merasakan hal yang sama. Pihak sekolah dan warga sempat mengadu ke kelurahan dan kecamatan hingga ke Pemkab Semarang. Bahkan, permasalahan tersebut sudah dimediasi dengan Pinako. Hanya saja, belum ada penanganan maksimal, sehingga masih terjadi pencemaran. Pinako juga menjanjikan memberikan masker pada sekolah, tetapi hanya sekali saja. Selain itu, janji untuk memberikan fasilitas kesehatan rutin dan beasiswa sampai saat ini belum terealisasi.

“Masalah ini sudah dibahas di BLH. Memang sudah ada tindak lanjutnya dengan mengubah posisi cerobong dan perubahan waktu produksi di luar jam KBM. Memang pencemaran mulai berkurang, tetapi giliran masyarakat yang kena polusi udara saat sore hari,” tutur Etik.

Salah seorang warga, Nur Khasanah, 42, Dusun Lengkong RT 2 RW 3, Desa Wonorejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang mengatakan bahwa saat ini pencemaran udara tidak terjadi di pagi hari, melainkan sore hari. Bahkan tidak hanya pencemaran udara, limbah cair pabrik juga mencemari sawah dan sumur milik warga. Yakni, airnya yang semula jernih, berubah keruh kehitaman. Bahkan banyak petaninya merasa gatal-gatal dan tanamannya tidak tumbuh subur.

“Pencemaran udara sekarang masuk ke permukiman, pabrik memproduksi sore hingga malam hari. Kalau kami tidur, pagi harinya hidung sudah penuh jelaga hitam. Dulu air sumur bisa dikonsumsi, sekarang sudah tidak bisa dikonsumsi,” ungkapnya.

Menurutnya, warga sudah beberapa kali mengadu ke pabrik dan Pemkab Semarang. Tapi tidak ada tanggapan yang serius, hanya diberi janji-janji saja. Warga berharap Bupati Semarang tegas dalam menindak pabrik nakal yang merusak lingkungan. “Silahkan membangun pabrik, tapi jangan menganggu lingkungan dan warga. Banyak warga yang sesak nafas dan ada yang mengeluh sakit gatal,” tuturnya.

Sementara itu, perwakilan PT Pinako Rotary Permai, yakni Kepala HRD, Budi Rahardjo saat ditemui di kantornya mengatakan bahwa perusahaannya sedang melakukan perbaikan masalah limbah. Saat ini pihaknya mendapatkan bendera hitam yakni penilaian buruk dalam pengelolaan limbah dari BLH Kabupaten Semarang. “Sekarang kami masih melakukan perbaikan tata kelola limbah. Sebab sebelumnya tidak dikelola dengan baik. Kebetulan saya belum bekerja di sini. Harapan kami, nantinya tidak ada lagi bendera hitam. Kami sudah memberikan kompensasi uang kepada sekolah dan desa,” terang Budi. (tyo/ida)