STOK KOSONG : Balai Pembibitan Ikan (BBI) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Semarang, di Desa Kebondowo, Kecamatan Suruh, kehabisan stok bibit ikan Gurami dan Tawes sehingga menyulitkan petani. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
STOK KOSONG : Balai Pembibitan Ikan (BBI) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Semarang, di Desa Kebondowo, Kecamatan Suruh, kehabisan stok bibit ikan Gurami dan Tawes sehingga menyulitkan petani. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
STOK KOSONG : Balai Pembibitan Ikan (BBI) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Semarang, di Desa Kebondowo, Kecamatan Suruh, kehabisan stok bibit ikan Gurami dan Tawes sehingga menyulitkan petani. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

SURUH—Petani ikan di Kecamatan Suruh, Banyubiru dan Pabelan kesulitan mendapatkan bibit ikan jenis Gurami di Kabupaten Semarang. Akibatnya, para petani ikan di kecamatan tersebut terpaksa mencari bibit sampai ke Ngrajeg, Kabupaten Magelang dan Klaten.

Dari pantauan wartawan Radar Semarang di Balai Pembibitan Ikan (BBI) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Semarang, di Desa Kebondowo, Kecamatan Suruh, Senin (23/2) kemarin, stok bibit ikan Gurami dan Tawes memang sedang kosong.
Beberapa petani ikan dari Ungaran sempat kecewa. Pasalnya sebelum datang ke Suruh, sempat datang ke Siwarak, Ungaran, kemudian diarahkan ke BBI Kebondowo, tapi juga nihil tak ada bibit ikan Gurami.

Suko, 53, penjual bibit ikan di Desa Muncul, Banyubiru mengatakan bahwa permintaan bibit ikan Gurami tinggi. Tapi stoknya sedikit. Permintaan paling banyak, sementara ini Lele dan Nila. Untuk Gurami, permintaan rumah makan sangat besar. Bahkan, sampai petani ikan di Banyubiru sendiri sulit memenuhinya, akhirnya didatangkan dari luar daerah.

“Harusnya BBI Kabupaten Ungaran bisa mengomodasi, sehingga petani bisa mengembangkan ikan Gurami. Memang berdasarkan pengalaman, merawat Gurami lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama. Tapi jika bisa menghitung, bisnis ikan Gurami juga sangat bagus,” katanya.

Hal senada diungkapkan Sabilal, 32, petani ikan di Pabelan. Untuk mencari bibit ikan Nila Super, dirinya harus ke Klaten. Bahkan, Sabilal mengaku sudah berkeliling ke Muncul dan daerah penjual bibit lainnya, tapi masih kurang untuk kebutuhannya. “Saya sudah mencari di daerah-daerah pembibitan di Kabupaten Semarang, tapi stoknya tidak ada. Akhirnya saya pergi ke Klaten,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Disnakan Kabupaten Semarang, Agus Purwoko Djati membenarkan sulitnya mendapatkan bibit Gurami. Kalau ada, biasanya dari Banjarnegara atau Banyumas. Untuk stok, BBI Kabupaten Semarang adanya tingal Nila, Arwana, Best dan Larasati. “Kalau stok yang kami punya di BBI habis, masyarakat mencari di Klaten dan Ngrajeg, Kabupaten Magelang,” pungkasnya. (abd/ida)