28.3 C
Semarang
Jumat, 13 Desember 2019

Selamatkan Batik

Must Read

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG
NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG

MESKI industri batik sudah ada cukup lama, tapi masih banyak yang kesulitan membedakan batik khas setiap daerah. Termasuk batik Semarangan.

”Banyak yang belum bisa membedakan antara batik asli Semarang dengan batik daerah lain seperti batik Pekalongan, Lasem, dan lain sebagainya,” kata Siti Shofia, mahasiswi Magister Manajemen Universitas Diponegoro (Undip) ini.

Menurut Shofi, sebagai warga Semarang, kita harus bisa memberdayakan batik agar tidak kalah bersaing dengan batik daerah lain. ”Memang Pekalongan dan Lasem sudah terkenal lebih dahulu. Tapi apa salahnya jika batik Semarangan ikut moncer,” ungkap gadis kelahiran Grobogan, 7 Desember 1989 ini.

Ia mengaku sudah jatuh cinta dengan batik Semarangan sejak masih kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip. Ketika pulang kuliah, anak kedua dari empat bersaudara pasangan Abdillah Husein dan Nikmah ini sering main ke Sanggar Batik Semarang 16 di bilangan Meteseh, Tembalang. Dari situ, dia belajar bagaimana membatik dari proses awal hingga finishing.

Menurut Shofi, membatik sudah menjadi dunianya. Nyanting, pencelupan warna, hingga menata batik jadi ke dalam almari.

”Mungkin karena keseringan main untuk belajar banyak soal batik, pemilik sanggar malah merekrut untuk jadi karyawan. Dan Alhamdulillah sekarang dipercaya menjadi kepala sanggar,” ungkapnya.

Pemilik postur 158 cm/52 kg ini menyimpan obsesi untuk membuka usaha batik sendiri. Di sanggar, dia belajar bagaimana merawat batik, di bangku kuliah menenggak ilmu manajemen, dan kalau keduanya sudah lulus, pengalamannya itu akan dimanfaatkan jadi modal buka usaha butik.

”Niatnya bukan untuk bisnis semata. Tapi memang ingin membawa nama batik Semarangan lebih moncer lagi. Bisa dikenal di seluruh Indonesia, syukur-syukur di dunia,” harapnya. (amh/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Rombak Kurikulum

Reformasi besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin. Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -