Pram Dipenjara 18 Tahun

166

KENDAL – Berbicara tentang sastrawan Indonesia, nama Pramoedya Ananta Toer tentu sudah tidak asing. Pria yang akrab disapa Pram ini banyak melahirkan karya-karyanya dalam dunia sastra. Tapi siapa sangka, ternyata Pram (6 Februari 1925- 30 April 2006) pernah menghabiskan hidupnya di penjara selama 18 tahun.

Pram dipenjara pada masa kolonial Belanda selama tiga tahun, satu tahun pada masa Orde lama, serta 14 tahun pada masa Orde Baru. Pram pernah menjadi tahanan 14 tahun di penjara Pulau Buru Kepalauan Maluku. Ia sempat dilarang menulis saat menjalani masa tahanan, lantaran dituduh terlibat sebagai antek-antek Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebab banyak karyanya digolongkan sepaham dengan Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat).

“Tapi kakak saya itu bukan komunis atau PKI. Justru dia adalah orang yang nasionalis,” kata Susilo Toer, adik kandung Pram saat bedah buku karyanya yang berjudul “Pram Dalam Kelambu,” di Rumah Makan Saung Juragan, Kaliwungu.

Lekra merupakan organisasi kebudayaan sayap kiri di Indonesia. Lekra mendorong seniman dan penulis untuk mengikuti doktrin realisme sosialis. Semakin vokal terhadap anggota non-Lekra, kelompok lain membentuk Manikebu (Manifesto Kebudayaan). Akhirnya Presiden Soekarno kala itu untuk melarang pergerakan Lekra. Lantaran dinilai “berbahaya” karya Pram juga dibunuh dengan cara pelarangan peredaran buku-buku karyanya. “Pram, ditangkap oleh pemerintah orde baru, karena didakwa sebagai seorang komunis,” kata Susilo.

Meski ditahan, Pram mengaku tetap berkarya dalam tahanan. Bahkan karya-karyanya yang berulang kali meraih penghargaan internasional di bidang sastra. Bahkan sedikitnya ke 41 karyanya diterjamhakan bahasa asing. “Buku berjudul Pram Dalam Kelambu yang saya tulis ini merupakan bagian kedua dalam usaha menelusuri kehidupan pengarang radikal, Pramoedya Ananta Toer. Khususnya di altar kesusastraan bangsanya dan umumnya kesusastraan dunia,” imbuhnya.

Selain buku barunya itu, Soesilo juga telah mengungkap kehidupan Pram di dalam bukunya yang berjudul Pram dari Dalam 2013 lalu. Buku keduanya tentang Pram ini, dia mencoba mengulas seputar kehidupa Pram dengan karyanya. “Pram itu manusia biasa. Tidak benar semua tuduhan yang selama ini diarahkan kepadanya. Pram hanya memilih mengarang sebagai satu-satunya pilihan terbaik yang dianggap paling mungkin untuk mengemukakan sikap dalam mencari keadilan, memperjuangkan hak asasi manusia, dan mengungkapkan kebenaran,” tandasnya.

Di dalam bedah buku yang dihadiri Gunawan Budi Susanto (penyunting Pram Dalam Kelambu) dan Eko Sutikno yang merupakan teman Pram saat berada dalam tahanan Pulau Buru Kepulauan Maluku. Eko Sutikno menambahkan bahwa Pram memiliki kebiasaan buruk yakni tidak pernah membaca ulang karya yang pernah ditulisnya. “Selama bersama-sama dalam tahanan politik di Pulau Buru sekitar 1969-1979, kehidupan Pram dihabiskan untuk menulis, meskipun dalam situasi sulit (penjara). Dia memiliki daya ingat yang luar biasa, semua tulisannya tidak dibaca ulang. Pram selalu beranggapan apa yang ditulisnya sudah benar,” katanya. (bud/fth)