TEMANGGUNG- Polres Temanggung akhirnya menetapkan Yohanes Aditya, 28, sebagai tersangka tunggal dalam peristiwa tabrak lari yang menewaskan empat orang di Jalan Gadjah Mada, Maron, Temanggung. Dua korban lain juga mengalami luka serius. Yohanes merupakan warga Jalan Diponegoro Nomor 90, Parakan.

Kapolres Temanggung, AKBP Dwi Indra Maulana dalam pertemuan dengan awak media, Minggu (22/2) menjelaskan, penetapan tersebut diambil setelah melakukan analisis penyelidikan dan mendengarkan keterangan dari lima saksi. “Mulanya hanya ada tiga saksi. Kami akui mulanya kami mengalami kesulitan. Namun setelah kami mendengar keterangan dua saksi lagi, akhirnya kami menyimpulkan Yohanes adalah pengemudi mobil dalam kecelakaan tersebut. Dan Yohanes ini meski awalnya tidak mengakui namun setelah semua saksi mengarah padanya akhirnya Yohannes tidak bisa mengelak,” jelasnya.

Hal lain yang membuat petugas kepolisian mengalami kesulitan adalah Yohanes dan Muhammad Romadhon, 35, saling melempar tanggungjawab mengenai siapa yang pada saat kejadian bertindak sebagai pengemudi. Adapun Romadhon saat ini hanya ditetapkan sebagai saksi.

Dari keterangan saksi juga didapatkan keterangan bahwa 30 menit sebelum menabrak, tersangka ternyata menenggak minuman keras. Oleh sebab itulah, kepolisian menyimpulkan bahwa tersangka mengemudi mobil di bawah pengaruh alkohol.

“Tidak mudah bagi kami, karena kedua orang yang ada di dalam mobil saat kecelakaan terjadi malah justru saling tuduh dan berusaha lepas dari tanggung jawab. Maklum, mereka saat malam penangkapan dan interogasi oleh petugas, masih dalam kondisi mabuk,” ungkapnya.

Menanggapi isu yang menyebutkan bahwa tersangka Yohanes Aditya juga pernah tersangkut kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang, Indra mengaku masih terus menyelidiki perihal kebenaran isu tersebut. Namun berdasarkan tes urine diketahui Yohanes negatif menggunakan narkoba.

Atas tindakannya, tersangka dikenakan dakwaan primer pasal 311, subsider 310 lebih subsider 312 UU Lalulintas Nomor 22 tahun 2009 dengan ancaman lebih dari 12 tahun penjara.

Hingga saat ini dua orang korban luka masih dalam perawatan tim medis. Yaitu Maskuri, 58, warga Malangan, Payaman, Secang yang dirawat di RSUD Temanggung mengalami patah tangan kanan. Korban luka lainnya yaitu Mudiono, warga Kwaluan, Kertosari harus dilarikan di RST Soedjono Magelang akibat patah tulang kaki serius.

Sementara itu, keluarga korban, Sabtu (21/2) lalu menerima santunan dari PT Jasa Raharja. Besaran santunan sesuai dengan aturan Rp 25 juta tiap orang.

Kepala Perwakilan Magelang PT Jasa Raharja Ahmad Alfansuri Situmeang mengatakan bahwa pihaknya menyalurkan Rp 100 juta bagi empat keluarga korban meninggal dunia dalam kecelakaan Kamis sore (19/2) tersebut.
“Sesuai ketentuan yang berlaku bahwa ahli waris yang ditinggalkan oleh korban berhak menerima santunan. Untuk korban meninggal dunia yaitu sebesar Rp 25 juta per orang, sementara untuk korban luka-luka menerima santunan maksimal Rp 10 juta,” ungkapnya.

Pencairan santunan, disampaikan Ahmad, harus diserahkan kepada keluarga korban maksimal 7 hari setelah kejadian. PT Jasa Raharja mengupayakan kerja cepat hingga jemput bola kepada pihak keluarga untuk penyelesaian pemberian santunan tersebut.

“Hasil kerja cepat ini juga hasil kerjasama dengan pihak kepolisian. Dengan adanya koordinasi dan komunikasi yang terjadi maka proses pencairan santunan kepada keluarga korban kecelakaan juga mudah kami sampaikan,” tambah Alfansuri.

Kanitlaka Polres Temanggung, Iptu Achirul Yahya dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan bahwa kerjasama antara kepolisian dan PT Jasa Raharja dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Rubini, 56, ibu dari Jeki Akhirati, korban meninggal dunia warga Mungseng mengaku sedikit lega dengan santunan tersebut. “Kami sangat berterima kasih. Santunan ini nanti akan saya gunakan untuk biaya sekolah anak-anak,” ucapnya. (mg3/ton)