BERKESAN : Sejumlah mahasiswa asing menikmati sajian musik campursari di dalam gerbong Sepur Kluthuk Jaladara yang berangkat dari Stasiun Purwosari, Solo. (Ricky fitriyanto/radar semarang)
BERKESAN : Sejumlah mahasiswa asing menikmati sajian musik campursari di dalam gerbong Sepur Kluthuk Jaladara yang berangkat dari Stasiun Purwosari, Solo. (Ricky fitriyanto/radar semarang)
BERKESAN : Sejumlah mahasiswa asing menikmati sajian musik campursari di dalam gerbong Sepur Kluthuk Jaladara yang berangkat dari Stasiun Purwosari, Solo. (Ricky fitriyanto/radar semarang)

Solo memiliki potensi wisata budaya yang kuat. Kota tersebut juga memiliki calendar of events yang cukup padat. Bahkan beberapa event diantaranya berkelas internasional. Kemeriahan event serta destinasi wisata di Solo dan sekitarnya tersebut dinikmati sejumlah jurnalis, travel blogger, dan mahasiswa asing yang mengikuti Familiarization Trip (Fam Trip) yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Jateng pada 15-17 Februari lalu.

Ricky Fitriyanto, Solo

Watcharaporn Keawfun tampak antusias ketika menyaksikan Grebeg Sudiro yang digelar di kawasan Pasar Gedhe, Kelurahan Sudiroprajan, Minggu (15/2). Mahasiswi asal Thailand yang kini belajar di Unnes tersebut bahkan mengajak foto bersama sejumlah peserta karnaval untuk menyambut Imlek itu. “Ini acara yang unik. Meski digelar untuk menyambut Imlek, budaya Jawa dan budaya lainnya juga ditampilkan,” katanya.

Grebeg Sudiro tahun ini memang sedikit istimewa. Event kolaborasi budaya Jawa dan Tiongkok itu dihadiri Menteri Pariwisata Arief Yahya. Kementerian Pariwisata bahkan memberikan bantuan anggaran Rp 100 juta untuk pelaksanaan event yang selalu menyedot wisatawan asing maupun domestik tersebut. Arief bahkan berjanji membantu mempromosikan event wisata tersebut. Apalagi Solo tengah mengusulkan sebagai kota kreatif ke UNESCO.

Lelah berpanas-panasan menonton Grebeg Sudiro, para mahasiswa asing, jurnalis, dan travel blogger tersebut lantas diajak berkunjung ke Museum Batik Danar Hadi. Esok harinya, mereka mendatangi sentra pembuatan gamelan di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo. Di tempat inilah gong perdamaian PBB dibuat. Para peserta trip menyaksikan langsung proses pembuatan gamelan yang masih menggunakan cara tradisional.

Setelah itu, mereka menuju Kabupaten Karanganyar untuk melepas penat dan menikmati teh di tengah area perkebunan teh Kemuning. Deretan kebun teh yang hijau sejauh mata memandang menjadi ajang refreshing yang tidak bisa didapatkan di perkotaan.

Di hari terakhir, rombongan mengunjungi Kampung Batik Laweyan di Solo. Mereka melihat proses pembuatan batik dari mulai dicanting atau di cap, proses pewarnaan, melepas malam, hingga dijemur. Acara berbelanja batik juga tak dilewatkan oleh mereka.

Siang hari mereka menikmati berkeliling kota solo dengan kereta api uap kuno, Sepur Kluthuk Jaladara. Kereta ini sungguh unik karena masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Di dalamnya peserta disuguhi musik campursari, jamu gendong, dan jajan pasar. Kereta juga berhenti di sejumlah spot menarik di Solo.

Watcharaporn Keawfun terkesan dengan rangkaian perjalanan tersebut. “Fam trip is the best trip at Indonesia,” ungkapnya. Dia mengaku paling senang saat berkunjung ke kebun teh Kemuning dan mencicipi kuliner Solo di malam hari. Gadis yang mengambil kuliah di jurusan Sports Science tersebut berjanji akan datang lagi ke Solo bersama keluarganya.

Kesan yang positif juga dirasakan Farhana Sharefi, mahasiswi asal Afghanistan yang kuliah di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas). Cewek berkacamata ini menyukai batik Indonesia. “Saya paling suka batik karena di negara saya juga ada sejenis batik walaupun berbeda,” ungkapnya. Saat pulang ke negaranya nanti, dia berjanji akan mempromosikan pariwisata di Solo kepada teman-temannya.

Sementara Martha Larissa Serrano Barranca, pelajar asal Meksiko yang kini sekolah di SMAN 3 Semarang menganggap keikutsertaannya dalam Fam Trip merupakan kesempatan yang bagus. “Ini pengalaman yang bagus karena saya juga bertemu orang dari berbagai negara untuk menikmati wisata di Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya Indonesia memiliki potensi wisata yang luar biasa. Mulai dari wisata alam, budaya, hingga berbagai event yang menakjubkan. Martha bahkan berjanji kembali ke Indonesia suatu saat nanti. “Saya akan berkeliling Indonesia. Selain ke Jateng, juga ke Bali dan daerah lainnya,” kata dia.

Kabid Pemasaran Dinbudpar Jateng Trenggono mengatakan Fam Trip merupakan upaya promosi pariwisata di Jateng dengan memanfaatkan semua jaringan lini media seperti sosmed, travel blogger, mahasiswa asing, dan jurnalis. “Program ini merupakan paduan pola promosi media cetak dan IT serta dari mulut ke mulut yang dilakukan mahasiswa asing,” katanya. Pihaknya memanfaatkan mahasiswa asing sebagai duta wisata untuk membangun citra positif Jateng sebagai destinasi yang indah, aman, dan nyaman, serta layak dikunjungi wisatawan.

Kegiatan kemarin juga diharapkan memberikan efek berlibat ganda. Sebab dibarengkan dengan kampanye digital Imlek Nusantara yang diluncurkan Kementerian Pariwisata. (Kemenpar). Bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Tiongkok, Kemenpar mengajak 14 orang dari komunitas media sosial seperti blogger, videografer, fotografer, dan travel buzzer yang membantu Kemenpar mempromosikan tujuan wisata di Indonesia. Mereka mengunjungi Semarang dan Solo. (ric)