HARUS DIJAGA: Lumpia camilan khas Kota Semarang yang sedang diincar Malysia untuk diklaim sebagai makanan khas negeri jiran tersebut. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
HARUS DIJAGA: Lumpia camilan khas Kota Semarang yang sedang diincar Malysia untuk diklaim sebagai makanan khas negeri jiran tersebut. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
HARUS DIJAGA: Lumpia camilan khas Kota Semarang yang sedang diincar Malysia untuk diklaim sebagai makanan khas negeri jiran tersebut. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayan telah mengakui Lunpia Semarang sebagai Warisan Budaya Nasional Tak Benda. Meski begitu, jajanan khas Kota Atlas ini justru sedang diincar Malaysia untuk diakui sebagai kuliner khasnya.

Seolah lomba sprint, Indonesia dan Malaysia beradu cepat mendaftarkan lunpia ke Unesco. Meski begitu, Meylani Sugiarto, generasi keempat dari dinasti Lunpia Semarang dan generasi kedua dari Lunpia Mataram, mengandeng Forum Masyarakat Peduli Budaya Indonesia (Fotmasbudi) menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, Jumat (20/2) siang.

“Kami hanya memperingatkan, jangan lagi budaya original Indonesia diklaim menjadi milik mereka. Sampai saat ini sudah ada sekitar 10 kebudayaan yang telah diaku-aku oleh Malaysia. Jangan sampai lunpia ini menjadi korban yang ke-11,” ungkap wanita yang akrab disapa Cik Me Me, dalam syukuran di Lunpia Delight, Jalan Gajahmada Semarang, akhir pekan lalu.

Menurutnya, meski belum mendapat sertifikat resmi dari UNESCO, lunpia sudah menjadi daya tarik Kota Semarang selain sederet gedung-gedung bersejarah. Camilan berisi rebung atau tunas bambu ini digadang-gadang mampu menjadi franchise yang bersaing di jagad internasional. “Lunpia Delight misalnya, hadir lewat bentuk kafe dengan dapur yang terbuka, sehingga pengunjung bisa melihat proses pembuatan secara langsung. Kebetulan, tahun ini kami mengeluarkan menu baru, yaitu lunpia isi daging kakap,” ungkap Cik Me Me yang juga bos Lunpia Delight.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng, Prasetyo Aribowo, menambahkan, pengakuan lunpia Semarang sebagai warisan budaya nasional tak benda tercantum dalam sertifikat nomor regristrasi 153991/MPK.A/DO/2014. Sertifikat bertanggal 17 Oktober 2014 itu diterimanya akhir tahun lalu dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M Nuh. “Selain lunpia Semarang, empat tradisi di Jateng juga mendapat pengakuan sebagai warisan budaya nasional tahun lalu. Keempatnya yakni kertas daluang, gamelan Jawa gaya Surakarta, sekaten, dan pawukon (penanggalan Jawa, Red),” tegasnya. (amh/smu)