Lestarikan Tradisi Nenek Moyang, Tak Patok Harga

1720
TERAPI: Seorang pasien terlihat melakukan terapi semnprong gigi. (foto:faiz urhanul hilal/radar semarang)
TERAPI: Seorang pasien terlihat melakukan terapi semnprong gigi. (foto:faiz urhanul hilal/radar semarang)
TERAPI: Seorang pasien terlihat melakukan terapi semnprong gigi. (foto:faiz urhanul hilal/radar semarang)

Di tengah perkembangan zaman yang begitu pesat, mempertahankan warisan nenek moyang bukan sesuatu yang mudah. Namun di tangan Amat Abidin, 52, pengobatan tradisional terapi semprong gigi masih bertahan hingga sekarang. Seperti apa?

FAIZ URHANUL HILAL, Pekalongan

Pengobatan tradisional menggunakan semprong yakni alat terbuat dari bambu, merupakan cara pengobatan kuno yang dipercaya bisa mengeluarkan cacing dari dalam gigi. Selama berabad-abad, pengobatan tersebut dipercaya bisa menyembuhkan sakit gigi atau gigi keropos yang disebabkan karena adanya cacing di dalam gigi tersebut.”Saya mendapat resep ini dari nenek moyang, secara turun-temurun. Namanya semprong gigi,” kata Amat saat ditemui di rumahnya Jalan Setono, Gang 1 nomor 7, Kota Pekalongan‎.

Menurut Amat, sebelumnya, pengobatan tradisioanl tersebut banyak ditemukan di eks Karesidenan Pekalongan. Namun seiring perkembangan zaman, pengobatan tersebut telah ditinggalkan masyarakat bahkan cenderung punah di tengah adanya pengobatan modern secara medis.”Sekarang sudah jarang sekali digunakan, padahal sewaktu kecil pengobatan itu masih banyak yang memakai,” kata dia.

Dia mengklaim, proses pengobatan tersebut menggunakan bahan-bahan alami dan tidak menimbulkan efek samping apapun. Bahan pokok pengobatan itu adalah biji terong kuning, berbentuk kecil seukuran ibu jari. Berbeda dengan terong ungu yang biasa digunakan untuk sayur. Lantaran bahan pokok pengobatan tidak bisa ditemukan di pasaran, Amat akhirnya menanam sendiri di kebun belakang rumahnya.”Saya tanam sendiri, biasanya setelah penanaman, panennya tiga bulan kemudian. Di pasaran tidak ada yang jual,” ujarnya.

Amat sedikit membeber cara tradisional yang diklaim ampuh menyembuhkan sakit gigi, yakni biji terong kuning tersebut dicampur dengan minyak sayur kemudian dibakar di atas pecahan genting tanah yang telah dipanaskan. Genting tanah sendiri diletakkan di tengah baskom berisi air.”Nah, campuran biji terong kuning dan minyak sayur itu kemudian ditutup menggunakan batok kelapa yang atasnya dilubangi. Baru lubang di atas batok kelapa itu disambungkan dengan bambu (semprong, red),” jelasnya.

Asap yang keluar dari hasil pembakaran itu kemudian dihisap menggunakan mulut oleh pasien dan didiamkan sekira satu hingga dua menit. Cara itu dilakukan selama beberapa kali.

Cacing yang bersemayam di gigi seketika keluar melalui semprong. Saat batok kelapa dibukaan cacing-cacing itu terlihat mati di antara biji terong kuning dan minyak sayur yang dibakar di atas genting tanah.”Ada yang satu kali terapi, cacingnya sudah keluar. Ada yang dua hingga tiga kali,” kata Amat.

Setelah melakukan pengobatan, p‎asien dilarang minum air dingin minimal tiga hingga empat hari. Hal itu untuk mencegah, berkembangnya cacing. “Setelah itu, baru boleh,” imbuhnya.

Terkait tarif pengobatan, Amat mengaku hanya menetapkan biaya seikhlasnya, sebagaimana dilakukan nenek moyangnya dahulu. “Saya tidak mematok tarif. Seikhlasnya saja. Kalau orang sini biasanya memberi uang Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Kalau dari luar kota paling besar pernah ada yang memberi Rp 100 ribu,” kata Amat.

Amat menegaskan, dalam pengobatannya tidak menimbulkan efek samping baik saat terapi maupun pasca terapi. Jika ada keluhan masyarakat terkait terapi yang sama, kata Amat, hal itu disebabkan karena metode yang tidak benar.”Ada yang mengeluhkan setelah berobat seperti ini, lidahnya mati rasa. Itu karena metodenya tidak benar. Selama ini Alhamdulillah, tidak pernah ada pasien saya yang mengeluh hal itu,” ujarnya.

Dalam sehari, rumah Amat selalu ramai dikunjungi pasien dari berbagai daerah di Jawa Tengah maupun sekitarnya. Bahkan praktek yang dibuka sejak pukul 08.00 hingga pukul 22.00 tersebut, Amat bisa melayani hingga 10 pasien.”Setiap hari buka, tidak pernah libur. Orang-orangnya banyak dari berbagai daerah,” kata. (*/zal)