GURU SERTIFIKASI: Guru PNS sertifikasi Kabupaten Batang, saat diambil sumpahnya beberapa waktu lalu. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
GURU SERTIFIKASI: Guru PNS sertifikasi Kabupaten Batang, saat diambil sumpahnya beberapa waktu lalu. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)
GURU SERTIFIKASI: Guru PNS sertifikasi Kabupaten Batang, saat diambil sumpahnya beberapa waktu lalu. (TAUFIK HIDAYAT/RADAR SEMARANG)

BATANG- Indeks kompetensi guru pegawai negeri sipil (PNS) yang bersertifikasi masih lebih rendah dibanding guru non sertifikasi. Hal tersebut sangat ironis, jika mengingat gaji guru PNS bersertifikasi lebih tinggi dibanding guru biasa non sertifikasi, terlebih guru honorer.

Berdasarkan data Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Tengah, bahwa indeks kompetensi guru penerima sertifikasi di Provinsi Jateng saat ini lebih rendah dari pada guru non sertifikasi. Hal ini harus menjadi perhatian guru bersertifikasi khususnya PNS, agar bisa meningkatkan kompetensi mereka.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Batang, Noor Rosyid, mengungkapkan bahwa data dari LPMP tersebut, harus menjadi catatan serius pada dunia pendidikan. Menurutnya kompetensi guru bersertifikasi harus ditingkatkan dan jangan kalah dengan guru non sertifikasi.“Perlu adanya perubahan dalam karakter guru bersertifikasi, karena index kompetensinya terus menurun, ini sangat memprihatinkan.” ungkap Noor Rosyid.

Noor Rosyid juga menjelaskan, untuk tingkat TK/RA, nilai uji kompetensi guru bersertifikasi 46,4. Masih kalah dari guru non sertifikasi sebesar 55,1. Guru SD/MI, nilai kompetensi guru bersertifikasi 54, 1 dan guru non sertifikasi 55,0. Sedangkan untuk tingkat SMP/MT, nilai kompetensi guru bersertifikasi 54,1 dan non sertifikasi 55,0.

Menurutnya di tingkat SMA/MA, nilai kompetensi guru bersertifikasi 52, dan guru non sertifikasi 58,6. Sedangkan di tingkat SMK, nilai kompetensi guru bersertifikasi juga masih kalah, sebesar 54 sedangkan guru non sertifikasi 53,3. “Salah satu faktor yang membuat nilai index kompetensi guru bersertifikasi rendah, jika dengan guru non sertifikasi adalah usia. Banyak guru bersertifikasi sekarang ini usianya sudah tua. Kompetensi guru bersertifikasi harus lebih dipacu. Usia boleh tua, tapi semangat harus muda,” jelas Noor Rosyid.

Sementara itu, Ketua Forum Guru Sertifikasi RA/Madrasah, Kantor Kemenag Kabupaten Batang, Setiyadi, membenarkan adanya data dari LPMP Jateng, terkait indeks kompetensi guru bersertifikasi yang masih rendah, dengan guru non sertifikasi di Kabupaten Batang. Menurutnya rendahnya index kompetensi itu, terjadi baik pada guru di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun yang berada di bawah Kementerian Agama.

” Realitasnya memang seperti itu. Harus ada solusi agar guru penerima sertifikasi, bisa terus meningkat kompetensinya. Seperti peningkatan pengetahuan dan penguasaan teknologi informasi. Keduanya harus dimiliki,” tegas Setiyadi.(thd/zal)