Tata Serayu – Gabungan anggota TNI, Polri, Tim SAR dan warga di Kecamatan Kejajar kerja bakti menata Sungai Serayu yang kerap meluap hingga menyebabkan longsor dan banjir. (SUMALI IBNU CHAMID/ RADAR KEDU)
Tata Serayu – Gabungan anggota TNI, Polri, Tim SAR dan warga di Kecamatan Kejajar kerja bakti menata Sungai Serayu yang kerap meluap hingga menyebabkan longsor dan banjir. (SUMALI IBNU CHAMID/ RADAR KEDU)
Tata Serayu – Gabungan anggota TNI, Polri, Tim SAR dan warga di Kecamatan Kejajar kerja bakti menata Sungai Serayu yang kerap meluap hingga menyebabkan longsor dan banjir. (SUMALI IBNU CHAMID/ RADAR KEDU)

WONOSOBO – Curah hujan di kawasan Wonosobo masih tinggi. Tiap hari nyaris terjadi hujan, bahkan kerap mencapai lebih dari 5 jam tanpa henti. Kondisi ini, menyebabkan meluapnya debit air sungai Serayu. Bahkan di kawasan Dieng terjadi longsor dan banjir. Minggu (22/2), dilakukan pembersihan sungai di wilayah Kecamatan Kejajar.

Kerja bakti pembersihan sungai ini dilakukan oleh beberapa kelompok meliputi Tim SAR Scombed Rescue, TNI, Polri, Pemerintah Kecamatan, perangkat Desa Kejajar dan Surengede. Mereka menyisir sepanjang Serayu di dua desa itu membersihkan sampah, serta merapikan beberapa batu sungai. Karena, akibat sampah dan batu sungai ini, aliran air berpindah dan menghantam tebing hingga terjadilah longsor.

Menurut Camat Kejajar Supriyadi, pihaknya sengaja melibatkan banyak pihak dalam pengelolaan sungai Serayu ini. Karena beberapa pekan terakhir, Serayu terancam longsor dan banjir. Bahkan juga mengancam robohnya jembatan penyambung Wonosobo- Temanggung di Kecamatan Kejajar.

Supriyadi menyebutkan, ancaman terhadap bahaya longsor dan banjir, masih harus diantisipasi warga di Kecamatan Kejajar. Karena curah hujan masih tinggi. Saat ini bronjong dan tembok pengaman jembatan penyambung jalur alternatif Wonosobo- Temanggung makin terkikis dan hilang. “Untuk itu gotong royong bersih sungai dikonsentrasikan di sekitar jembatan. Agar air dapat terarah ke tengah dan tidak merusak tepian sungai,” katanya.

Koordinator tim SAR Scombed Rescue Mugito menjelaskan, pembersihan Serayu ini merupakan bentuk antisipasi agar air sungai dapat terarah pada alurnya. Karena akibat hujan dan banyaknya batu, air mengalir liar merusak tepian sungai. “Padahal di atas tepian sungai terdapat rumah warga, ini berbahaya,” katanya.

Ketua LSM Bhineka Karya Tafrihan mengatakan, sungai Serayu yang melintas di beberapa desa terus mengalami pelebaran pada saat terjadi hujan. “Karena debit air bertambah dan terjadi erosi di sepanjang sungai, air meluap dan mengikis sepanjang sungai,” katanya.

Tafrihan mengatakan, pada tahun 2010 pernah menggelar pelatihan PWM (Partisipatory Water Monitoring) yang diikuti oleh warga dari Kelurahan Kejajar, Desa Surengede dan Desa Igirmranak untuk mengetahui kerusakan lingkungan dengan cara identifikasi air. Dari hasil penelitian waktu itu, di Dusun Krakal Kulon dan Krakal Wetan, lebarnya hanya sekitar 8 meter dan tahun ini sudah mencapai lebih dari 35 meter.
“Ini karena debit air meningkat, menggerogoti kanan dan kiri tebing sungai, dilihat dari jejak sampahnya yang saat ini masih berserakan,”katanya.

Di Dusun krakal saat ini ada beberapa rumah yang terancam banjir karena lahan yang dulunya cukup jauh dari bibir sungai saat ini sudah semakin dekat. Beberapa rumah bahkan hanya sekitar 3-5 meter dari bibir air. (ali/ton)