MENGHIBUR : Penampilan Gareng Rakasiwi dan Wisben Antoro dalam lawakan Wedang Ronde yang digelar tak jauh dari Candi Ngawen, Muntilan Sabtu (21/2) malam. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
MENGHIBUR : Penampilan Gareng Rakasiwi dan Wisben Antoro dalam lawakan Wedang Ronde yang digelar tak jauh dari Candi Ngawen, Muntilan Sabtu (21/2) malam. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
MENGHIBUR : Penampilan Gareng Rakasiwi dan Wisben Antoro dalam lawakan Wedang Ronde yang digelar tak jauh dari Candi Ngawen, Muntilan Sabtu (21/2) malam. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MUNGKID – Suasana berbeda terlihat di sekitar situs Candi Ngawen Kecamatan Muntilan, Sabtu (21/2) malam lalu. Sekitar 200 meter dari candi, warga Muntilan dan sekitarnya berbondong-bondong menyaksikan penampilan pemain lawakan Wedang Ronde yang menjadi salah satu program televisi swasta di Jogjakarta di halaman rumah warga setempat.

Forum Silaturahmi Pemuda Magelang (FSPM) sengaja menghelat acara tersebut sebagai ajang silaturahmi, dan menghadirkan hiburan yang mengangkat kearifan lokal.

Menurut mereka, Wedang Ronde salah satu kesenian tradisional yang bisa menyampaikan pesan secara sederhana dengan banyolan-banyolan yang dilontarkan Wisben Antoro, Joned Duda Ceria, Gareng Rakasiwi, dan Nonot Sebastio (Wizband).

Dalam penampilan mereka, fragmen atau lawakan satu babak dihadirkan dengan judul Rebutan Balung dan Akik Wasiat. Seakan ingin mengangkat fenomena yang sedang menggemparkan Indonesia, FSPM mencoba ikut andil dalam skenario pertunjukan itu.
“Kami sengaja mengangkat fenomena yang saat ini terjadi di tanah air,” kata ketua panitia pelaksana kegiatan, Anang Imamuddin, kemarin.

Kepada Radar Kedu, pria 35 tahun itu berujar, Rebutan Balung mengisahkan perebutan pengaruh antarorang tertentu yang mengakibatkan perseteruan antarpemuda kampung. Katanya, ini sebagai gambaran perebutan kursi presiden yang menyebabkan antarpendukung saling bentrok.

“Ending-nya, yang berseteru didamaikan dan akhirnya terbentuk FSPM yang jargonnya bersatu, berjuang dan bermanfaat. Ini sejarah berdirinya FSPM yang lahir karena perseteruan antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo, yang kemudian justru kami berkumpul dan menjadi satu dalam kegiatan apapun,” tambahnya.

Menurut pria yang juga sebagai konsultan politik itu berujar, cerita kedua yang diangkat berjudul Akik Wasiat sengaja dipilih karena sedang jadi trending topik nasional. Intinya, jangan sampai akik dijadikan barang yang bisa menjerumuskan masyarakat ke hal-hal mistik, maupun untuk modus penipuan.

“Harapannya masyarakat bisa waspada dengan batu akik yang saat ini sedang populer di tanah air. Soalnya banyak orang yang melakukan modus penipuan menggunakan akik untuk mendapatkan keuntungan,” paparnya.

Sementara itu, Tohir, 68, warga setempat mengaku datang bersama cucunya untuk menyaksikan Wizband cs. “Mudah-mudahan pemuda-pemuda kita bisa akur, tidak lagi mempermasalahkan siapa yang jadi dan siapa yang nggak jadi presiden,” ungkap pensiunan guru tersebut.

Selain itu, Afrizan Mahardika, 25, warga Sawangan, menuturkan lawakan tradisional seperti itu cocok sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat. Apalagi, Kabupaten Magelang mayoritas penduduknya menjadi petani maupun berdagang, sehingga belum banyak terpengaruh hedonisme. “Jadi acara seperti inipun masih suka,” akunya.

Menurut Dika, acara seperti itu juga bisa memupuk generasi muda untuk tidak melupakan hiburan-hiburan tradisional yang sejatinya memberikan pengaruh banyak terhadap pembangunan SDM.

Perlu rutin diadakan agar pemuda terbiasa melihat hiburan itu. Jika tidak, kata dia acara seperti itu akan luntur ditelan zaman. “Kalau rutin ada dengan konsep beda, mungkin anak muda juga banyak yang mau nonton acara seperti ini. Seperti halnya tarian tradisional topeng ireng, dayakan jatilan, warokan dan sebagainya, dulu anak muda mana yang mau nonton? Tapi sekarang ke mana aja juga pasti diikutin, karena pemain-pemainnya juga banyak yang ngambil dari anak muda,” tandasnya. (put/lis)