TINJAU LOKASI : Bupati Semarang Mundjirin bersama tim dari BPBD Kabupaten Semarang mengecek lokasi rawan tanah longsor di Bukit Gunung Kelir Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
TINJAU LOKASI : Bupati Semarang Mundjirin bersama tim dari BPBD Kabupaten Semarang mengecek lokasi rawan tanah longsor di Bukit Gunung Kelir Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
TINJAU LOKASI : Bupati Semarang Mundjirin bersama tim dari BPBD Kabupaten Semarang mengecek lokasi rawan tanah longsor di Bukit Gunung Kelir Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

BANYUBIRU – Pemerintah Kabupaten Semarang memetakan lokasi pengungsian sementara untuk penanganan ketika terjadi bencana tanah longsor di bukit Gunung Kelir Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Bupati Semarang Mundjirin, bersama pejabat BPBD meninjau lokasi rawan longsor , Jumat, (20/2). Bupati meminta agar warga mengungsi ke Dusun Wirogomo Lor dan Dusun Krajan Lor yang aman dari bencana longsor. “Ya memang wilayah kita ini hampir semuanya perbukitan, hanya 2-3 persen saja yang datar. Di sini (Wirogomo) sudah bertahun-tahun kondisinya seperti ini. Saya lihat di Banjarnegara mungkin hampir sama seperti ini, tidak bisa diatasi,” kata Mundjirin disela-sela meninjau lokasi longsor di Kendal Ngisor, Desa Wirogomo.

Bupati menjelaskan, pihaknya sudah memetakan lokasi yang terancam longsor. Salah satu diantaranya Dusun Kendal Ngisor yang memiliki penduduk 200 jiwa. Saat ini menurut Bupati sudah mulai dilakukan pembuatan jalur evakuasi dan pemasangan tanda pergerakan tanah menggunakan bambu. Pancang bambu pendeteksi pergerakan tanah sudah terpasang tetapi belum dicek pergerakan tanahnya sudah berapa jauh. “Kalau hujan deras sekali sebaiknya segera mengungsi. Kalau nanti terjadi longsor warga langsung diarahkan mengungsi di Dusun Wirogomo Lor dan Krajan Lor,” tambahnya.

Kadus Krajan Kidul, Andi Tri, 32, longsor kecil di bukit Gunung Kelir sudah terjadi sejak 1,5 bulan. Dari pencitraan satelit tanahnya juga terlihat ambles 4 meter dan panjangnya 15 meter. Untuk mengantisipasi longsor susulan, warga kerjabakti memasang trucuk bambu penahan tanah longsor. “Dari hasil pengecekan lapangan ternyata benar tanahnya ambles 1,5 meter sepanjang 8-10 meter. Kondisi itu tentunya membuat warga kami khawatir terjadi longsor,” katanya.

Andi meminta Pemkab Semarang segera melakukan antisipasi sebelum terjadi bencana longsor. Sebab saat ini warga belum siap jika harus direlokasi di pengungsian. “Kalau warga diminta ngungsi sekarang belum siap, karena belum ada sosialisasi resmi,” tambahnya. (tyo/fth)