Perangi DBD, Premprov Galakkan Ronda Jentik

158
KURANG EFEKTIF : Petugas melakukan fogging di salah satu wilayah di Kota Semarang untuk memberantas jentik nyamuk DBD beberapa waktu lalu. Pemprov Jateng menggalakkan ronda jentik karena fogging dianggap kurang efektif. (Adityo dwi/radar semarang)
KURANG EFEKTIF : Petugas melakukan fogging di salah satu wilayah di Kota Semarang untuk memberantas jentik nyamuk DBD beberapa waktu lalu. Pemprov Jateng menggalakkan ronda jentik karena fogging dianggap kurang efektif. (Adityo dwi/radar semarang)
KURANG EFEKTIF : Petugas melakukan fogging di salah satu wilayah di Kota Semarang untuk memberantas jentik nyamuk DBD beberapa waktu lalu. Pemprov Jateng menggalakkan ronda jentik karena fogging dianggap kurang efektif. (Adityo dwi/radar semarang)

SEMARANG – Sebagai upaya mengatasi maraknya penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah segera menggalakkan gerakan ronda jentik. Gerakan ini merupakan gerakan yang diadopsi dari salah satu desa di Kabupaten Boyolali yang telah berhasil melaksanakannya.

”Dalam waktu dekat ini akan kita galakkan gerakan itu. Nantinya akan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bersama dengan Dinas Kesehatan di masing-masing Kabupaten/Kota yang ada di provinsi ini,” ungkap Kepala Biro Humas Setda Jateng Sinung Nugroho R kepada Radar Semarang.

Sinung menjelaskan, kegiatan pemantauan secara rutin terhadap jentik nyamuk di semua tempat penampungan air itu nantinya juga melibatkan organ-organ masyarakat. Misalnya perangkat desa, dan PKK. Selain itu, juga dengan memfasilitasi Puskesmas sebagai tempat penanggulangan pertama pada korban DBD. ”Ini penting dilakukan supaya penanggulangan jentik yang berpotensi DBD dilakukan secara cepat dan menyeluruh,” bebernya.

Berdasarkan data yang didapat, lanjut Sinung, jumlah kejadian DBD di Jateng sudah melebihi standar nasional. Persentase korban meninggal mencapai 1,44 persen dari standar nasional yang hanya 1 persen. Kejadian tertinggi terjadi di daerah Tegal dengan persentase 4,61 persen. ”Selain di Tegal, daerah-daerah lain yang juga menjadi perhatian misalnya Kota Semarang, Kendal, Batang, Demak, Kudus, Jepara, Grobogan, dan lain sebagainya,” imbuh Sinung yang mengaku terus melakukan pendampingan kepada kabupaten/kota tertinggi yang mengalami kasus tersebut.

Upaya lain yang dilakukan pemprov, tambah Sinung, adalah dengan mengefektifkan pembaharuan pelaksanaan pola rujukan di dalam penanganan pasien dari Puskesmas ke rumah sakit. Menurutnya, sistem tersebut sudah ada namun harus diarahkan pada kecepatan penanganan. ”Karena ini termasuk kejadian luar biasa,” imbuhnya.

Melalui gerakan tersebut, Sinung berharap dapat menjadi pola kehidupan di masyarakat. Sehingga nantinya menjadi perilaku masyarakat utamanya sebagai upaya preventif menanggulangi penyakit DBD. ”Selama ini masih tergantung kepada kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan,” pungkasnya. Dia menandaskan juga melakukan fasilitasi dokter spesialis anak untuk sosialisasi tata laksana klinik DBD. (fai/ric/ce1)