Harga Beras Cenderung Naik

185
PASOKAN KURANG: Tingginya curah hujan akhir-akhir ini membuat pasokan beras ke pedagang terus berkurang, sehingga mamicu terus naiknya harga beras. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
PASOKAN KURANG: Tingginya curah hujan akhir-akhir ini membuat pasokan beras ke pedagang terus berkurang, sehingga mamicu terus naiknya harga beras. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
PASOKAN KURANG: Tingginya curah hujan akhir-akhir ini membuat pasokan beras ke pedagang terus berkurang, sehingga mamicu terus naiknya harga beras. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Meski harga bahan bakar minyak (BBM) turun dan stabil, namun harga beras masih saja membandel. Justru dua minggu terakhir ini naik lagi antara Rp 1.000 – Rp 2.000 per kilogram.

Berdasarkan pantauan Radar Semarang di Pasar Dargo, beberapa pedagang menjual jenis C4 dari Rp 9.200 menjadi Rp 11.000 per kg. Sementara untuk jenis mentik, dipatok Rp 12.000 per kg.

Salah satu pedagang Budhi menuturkan, kenaikan harga ini lantaran pasokan dari petani sangat minim. Bahkan para pedagang beras di Pasar Dargo saling berebut mendapatkan jatah. “Sejak hujan turun terus menerus, pasokan beras jadi agak seret. Mungkin karena sawahnya banjir dan gagal panen. Ada juga yang gabahnya tidak bisa kering,” ungkap pria yang sudah menjual beras selama 57 tahun ini.

Pihaknya memperkirakan, harga beras akan kembali stabil setelah curah hujan menurun. “Biasanya memang seperti ini. Awal tahun lalu ketika seharian tidak ada panas juga terjadi kelangkaan. Biasanya pertengahan Maret, kalau petani sudah panen seperti biasanya, harga akan kembali stabil,” ungkapnya.

Kelangkaan ini, lanjut Budhi, juga dipengaruhi faktor pemborong dari Jakarta. Juragan-juragan itu selalu membeli sekitar 30-40 ton per bulannya. Praktis, suplai ke pasar-pasar di Semarang jadi berkurang.

Salah seorang pembeli, Sujati, warga Tlogosari Semarang mengaku, dengan masih tingginya harga beras di pasaran, dia akhirnya beralih dari beras premium ke beras menengah. “Biasanya dulu waktu harganya masih stabil pakai Mentik, tapi sekarang pakai C4,” cetusnya. Dia mengaku, meskipun harganya terpaut hanya Rp 1.000 per kg, namun sangat berarti bagi ibu rumah tangga. “Sisanya bisa untuk membeli kebutuhan bumbu dapur,” pungkasnya. (amh/smu)