OLAH SAMPAH: Peringati hari Peduli Sampah Nasional, puluhan siswa di SD Ananda Patebon belajar mengolah sampah menjadi pupuk kompos, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
OLAH SAMPAH: Peringati hari Peduli Sampah Nasional, puluhan siswa di SD Ananda Patebon belajar mengolah sampah menjadi pupuk kompos, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
OLAH SAMPAH: Peringati hari Peduli Sampah Nasional, puluhan siswa di SD Ananda Patebon belajar mengolah sampah menjadi pupuk kompos, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL – Puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) di Kendal, kemarin, ramai-ramai mengelola sampah. Anak-anak diajari untuk belajar mengelola sampah menjadi pupuk kompos. Aksi ini dilakukan, untuk mengajak anak peduli pada lingkungan dan melatih para siswa yang bersekolah di Jalan Sari Baru No. 37 Desa Purwokerto Patebon Kendal, agar bisa memanfaatkan sampah dengan baik. Sekaligus sebagai peringatan hari peduli sampah nasional, yang jatuh setiap 21 Februari. “Dengan aksi semacam ini, harapannya kedepan siswa dapat menyadari pentingnya lingkungan sehat dengan peduli pada sampah. Paling tidak membiasakan prilaku siswa untuk hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya,” kata Kepala SD Ananda, Budi Wahyono.

Selain itu, menurutnya pemanfaatan sampah yang tepat dapat diolah menjadi bahan yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos. Sedangkan sampah anorganik bisa diolah atau dimanfaatkan untuk dibuat kreasi yang bisa dijual. “Sehinga siswa bisa sejak dini memiliki jiwa wira usaha,” imbuhnya.

Sampah organik yang bisa dijadikan pupuk kompos dengan mudah bisa didapatkan. Salah satunya dari daun-daun kering yang berguguran. Apalagi, di sekitar lingkungan SD Ananda, banyak sekali pohon besar. “Daun-daun kering yang berguguran setiap hari dikumpulkan terkumpul banyak. Lalu daun-daun yang sudah kering itu, kami jadikan satu dan kami buat pupuk kompos,” tambahnya.

Budi menambahkan membuat pupuk kompos, masuk dalam ekstra kurikuler. Pelaksanaannya di lakukan tiap minggu sekali. Pupuk kompos buatan siswanya, dikemasi dalam plastic dan dijual ke toko-tokoh ataupun acara bazaar sekolah. “Hasil dari menjual pupuk kompos itu, selain digunakan untuk membeli bahan-bahan lain yang digunakan untuk campuran membuat pupuk kompos, juga untuk membiayai keperluan siswa saat ekstra kurikuler,” tambahnya.

Sebelum demo membuat pupuk kompos, tambah Budi, anak-anak diajak oleh para guru untuk belajar tentang lingkungan di Badan lingkungan Hidup (BLH) Kendal. Termasuk mengelola sampah menjadi pupuk. Kepala BLH, Suratno berharap agar tidak hanya mencintai lingkungan dengan mengambil sampah dan mengolahnya menjadi pupuk. Tapi juga melakukan penghijauan dengan cara menanam pohon di pekarangan rumahnya. “Peduli lingkungan tidak hanya persoalan lingkungan bersih dan mengolah sampah, tapi juga penanaman pohon. Siswa harus diajak untuk senang dan cinta menanam pohon sejak sekarang. Jika sejak kecil menanam, besar mereka sudah bisa memanen hasilnya yakni lingkungan yang sejuk dan hijau,” katanya. (bud/fth)