Sudah Balik Modal dalam Tiga Bulan

175
USAHA KELUARGA: Wati di ruang menyimpanan baglog jamur merang yang dibudidayakannya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
USAHA KELUARGA: Wati di ruang menyimpanan baglog jamur merang yang dibudidayakannya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
USAHA KELUARGA: Wati di ruang menyimpanan baglog jamur merang yang dibudidayakannya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Memiliki hobi menanam, Wati mengubah salah satu ruangan di rumahnya menjadi lahan bisnis. Kini usahanya menanam jamur tiram cukup sukses. Seperti apa?

PUPUT PUSPITASARI, Mungkid

Kepulan spora yang berterbangan bak asap yang terbawa angin tak terarah. Mereka berjatuhan dan menempel di baglog jamur milik Wati yang sudah tertata rapi di atas rak bambu buatan suaminya, Supriyono.

Proses perkawinan alami tanaman melalui serbuk itu, menghasilkan jamur tiram yang setiap hari dipanen Wati. Jumlahnya mencapai puluhan kilogram. Hawa dalam ruangannya seakan tak dihiraukan, sebab ada hal yang membuatnya senang, tak lama pedagang-pedagang pun akan mengambil jamur-jamur itu.

“Saya memanen jamur-jamur itu setiap sore hari, nanti pedagang-pedagang sudah pada ke sini untuk ngambil,” katanya saat ditemui di rumahnya Tangkilan, Kabupaten Magelang.

Saat ini, pemasukan per hari minimal Rp 100 ribu. Itu hasil dari panen jamur sekitar 10 kilogram. Dia bercerita, saat panen cukup bagus, jamur-jamurnya terkumpul 50 kilogram. Modal awal Rp 8 juta sudah pulih dalam 3 bulan. “Baglog (media jamur, Red) yang saya punya sekitar 5.000-an, yang saya beli di Magelang,” ungkapnya.

Perempuan 42 tahun ini tak menyangka, akan cukup sukses berbisnis jamur walau skalanya masih kecil. Sejak tahun 2012 memulai bisninya, Wati beruntung belum menemui kendala yang sulit hingga menyebabkan panenannya buruk.
“Ada juga yang jamurnya diserang ulat, tapi alhamdulillah saya belum pernah,” akunya.

Berbagi tips panen, ibu dua anak itu mengaku caranya cukup mudah. Tak perlu alat khusus. Cukup dipetik namun harus tercabut sampai akarnya. Kalau masih ada yang tertinggal, Wati mengatakan harus diangkat cukup menggunakan kuku. Kalau sulit? “Baru pakai alat kecil yang bisa digunakan untuk mengangkat akar jamur. Sebab, kalau tidak terangkat seluruhnya, akan mengganggu tumbuhnya jamur berikutnya,” urainya.

Wati bercerita, jamur memang butuh perhatian khusus. Penanganannya harus tepat. Selain suhu yang tidak boleh terlalu lembab atau basah, harus tetap dalam kondisi dingin sehingga jamur-jamur mau berkembang.

Namun kalau seharian panas, seluruh ruangan lantai hingga dinding maupun jamur harus dikabut atau disemprot menggunakan air. Tentu saja penyemprotan dilakukan secara hati-hati, jangan sampai masuk pada cincin baglog. Sebab air yang rembes kata Wati, dapat menyebabkan baglog busuk.

“Tapi kalau seharian tidak panas terus, tidak perlu dikabut,” tambahnya. Jelas Wati, jamur akan mati maupun kering jika suhu dalam ruangan terlalu panas.

Kendati demikian, jamur juga tetap membutuhkan cahaya matahari, namun intensitas rendah. Karena itu, Wati menggunakan paranet untuk menutup sebagian dindingnya sekaligus sebagai sirkulasi udara agar tidak terlalu pengap.

“Kalau pagi hari sporanya sangat banyak, sehingga harus pakai masker. Kalau siang sudah tidak begitu banyak, udaranya juga cukupan, jadi tidak pakai masker tidak apa-apa,” tuturnya.

Sebelum usahanya lancar, dia pernah keliru membeli baglog di daerah Sleman. Jelas saja panennya tidak terlalu bagus, karena suhu baglog buatan Sleman tidak sama dengan suhu di Magelang. Janji bisa panen 4 bulan, nyatanya hanya dua kali panen.

“Yang memberikan saran beli di sana adalah teman saya yang pernah beli di sana, ternyata dia juga gagal,” sesalnya.
Dia tak patah semangat, terus menimba ilmu dari berberapa petani jamur. Semua yang bagus dia saring, dan diterapkannya. Hasilnya sekarang terlihat, dia berniat untuk terus mengembangkan usahanya.

“Usaha ini juga sebagai obat stres. Kalau lagi suntuk lihat jamur-jamur tumbuh besar-besar rasanya nggak karuan, seneng campur haru pokoknya,” ucapnya sambil menahan air matanya.

Perasaan sama diungkapkan Supriyono yang terus mendukung usaha isterinya. Apalagi selain menyalurkan hobi dan menjadikan kesibukan positif, hasilnya dapat dinikmati keluarga kecilnya. Tentu saja dapat meningkatkan ekonomi dan bisa untuk biaya pendidikan anak-anaknya. (*/lis)