Seminggu, Meluap Dua Kali

220

MANGKANG WETAN – Curah hujan yang tinggi dalam seminggu terakhir, membuat warga Kelurahan Mangunharjo dan Mangkang Wetan tidak bisa tidur nyenyak. Pasalnya, tingginya curah hujan tersebut sewaktu-waktu bisa membuat Sungai Beringin meluap dan menggenangi perkampungan warga sekitar.

Informasi yang dihimpun Radar Semarang, selama sepekan terakhir tercatat debit air Sungai Beringin mengalami puncaknya lantaran curah hujan cukup tinggi. Hal ini membuat beberapa wilayah di Kelurahan Mangunharjo RW 1, dan Mangkang Wetan RW 5 dan 7 tergenang air setinggi 30 hingga 50 sentimeter.

Warga Kelurahan Mangunharjo RW 1, Sutejo, 45, mengatakan, selama seminggu terakhir, wilayahnya sudah terendam banjir luapan Sungai Beringin sebanyak 2 kali. ”Terakhir wilayah sini banjir pada Selasa (16/2) sore lalu, penyebabnya Sungai Beringin meluap karena mendapat kiriman air dari daerah atas,” katanya.

Menurut dia, dalam sebulan terakhir tercatat Sungai Beringin sudah meluapkan aliran sungai ke wilayah perkampungan sebanyak dua kali. Hal ini terjadi lantaran sedimentasi yang sangat parah disertai penyempitan yang ada di muara sungai tersebut. ”Kalau tidak cepat dikeruk pasti banjir lagi, apalagi curah hujan masih sangat tinggi,” ujarnya.

Banjir yang menggenangi wilayah Mangunharjo, juga berdampak pada lahan persawahan milik warga. Lahan menjadi rusak lantaran diterjang luapan air Sungai Beringin, padahal saat ini sawah sedang memasuki masa tanam.

”Januari lalu banjir merusak 4 tanggul yang menjadi batas persawahan dan membuat jalan utama menuju Mangunharjo tertutup lumpur. Hal serupa kembali terjadi, padahal sawah milik warga baru saja ditanami,” tutur Solihin, 55, yang berprofesi sebagai petani.

Abdul Rochim, 35, warga RW 5 Kelurahan Mangkang Wetan meminta agar Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang segera mengeruk sedimentasi yang kian parah di Sungai Beringin. Walaupun beberapa hari lalu banjir hanya setinggi 20 sentimeter, dirinya mengaku waswas ketika hujan lebat mengguyur wilayah Semarang.

”Kami harap ada reaksi dari pemerintah berupa normalisasi sungai, jadi wilayah tempat tinggal warga tidak kebanjiran lagi,” pintanya.

Terpisah, Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Kadarlusman, mengatakan, jika di tahun ini Sungai Beringin akan dinormalisasi agar kelurahan yang ada di Kecamatan Tugu dan Ngaliyan tidak kembali tergenang banjir. ”Tahun ini anggaran normalisasi Sungai Beringin akan turun sebesar Rp 6 miliar, dan akan dikerjakan pada April nanti, dana tersebut turun dari provinsi,” katanya saat ditemui Radar Semarang.

Menurut politisi dari PDIP ini, dana sebesar Rp 6 miliar itu rencananya akan digunakan untuk membuat tanggul di muara Sungai Beringin yang mengalami penyempitan. Sehingga air sungai tidak bisa mengalir ke laut. Dana tersebut akan dihabiskan untuk membangun tanggul yang menggunakan tiang pancang.

”Normalisasi muara sungai akan menggunakan tiang pancang. Hal ini dilakukan agar tanggul lebih kuat menahan debit air ketika alirannya tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika panjang tiang pancang yang dipasang tidak bisa diprediksi. Sehingga dana sebesar Rp 6 miliar yang turun, rencananya akan dihabiskan untuk membuat tanggul baru.

”Kalau kurang, akan dianggarkan lagi. Karena banjir di daerah Mangkang sudah sangat parah, terkadang bisa menutup dan melumpuhkan jalan Pantura Semarang-Kendal,” tegas Pilus, sapaan akrab Kadarlusman yang memang asli Mangkang.

Selain pembangunan tiang pancang di muara sungai, Pemkot Semarang sebelumnya sudah membangun 4 titik tanggul rawan jebol yang berada di RW 5 dan RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan, serta di RW 6 dan 7 Kelurahan Wonosari dengan anggaran masing-masing Rp 200 juta.

Sementara untuk pengangkatan sedimentasi, kata dia, rencananya akan dilakukan pengerukan sungai, sehingga sungai memiliki kedalaman hingga 6 meter. Saat ini, sungai tersebut hanya memiliki kedalaman rata-rata 1,5 meter saja, sehingga rawan meluap.

”Pengerukan sedimentasi akan dilakukan dari utara ke selatan atau hilir ke hulu. Pengerukan juga akan dilakukan pada April nanti,” katanya.

Menurut dia, normalisasi Sungai Beringin terhambat oleh pembebasan lahan milik warga. Ia mencontohkan ada beberapa areal lahan milik warga seperti halaman rumah, persawahan dan tambak belum bisa dibebaskan. ”Kendalanya pada status kepemilikan, saat ini kami masih terus melacak siapa pemiliknya agar normalisasi bisa cepat dilakukan,” ujarnya. (den/aro/ce1)