KREMASI JENAZAH: Jiteng dan rumah krematorium di Kedungmundu. (Joko Susanto/Radar Semarang)
KREMASI JENAZAH: Jiteng dan rumah krematorium di Kedungmundu. (Joko Susanto/Radar Semarang)
KREMASI JENAZAH: Jiteng dan rumah krematorium di Kedungmundu. (Joko Susanto/Radar Semarang)

Banyak pengalaman menegangkan dan horor selama bekerja di rumah krematorium. Itu pula yang dialami Karyono dan Jiteng, pegawai di krematorium Yayasan Pancaka, Kedungmundu. Seperti apa?

JOKO SUSANTO, Kedungmundu

BOKS 1WEB

KARYONO masih ingat betul saat dirinya mengkremasi Tran Thi Bich Hanh alias Asien, 37, terpidana mati kasus penyelundupan heroin yang dieksekusi mati oleh regu tembak Brimob Polda Jateng di Boyolali beberapa waktu lalu. Setelah pagi itu dikremasi, abu jenazahnya langsung dikuburkan di samping makam pendetanya di pemakaman Kedungmundu, yang lokasinya berdekatan dengan rumah krematorium tersebut.

Anda bolah percaya boleh tidak, pasca Asien dimakamkan, Karyono mengalami kejadian yang cukup mistis. ”Selama tujuh malam setelah jenazah Asien sudah dikubur, warga sini kerap mendengar suara aduh.. aduh.. aduh.. seperti suara perempuan kesakitan. Tapi saat dicari, tidak ada orangnya. Awalnya dipikir orang diperkosa atau apa gitu. Saya sendiri sempat beberapa kali mendengar,” cerita Karyono saat ditemui Radar Semarang, Kamis (19/2).

Selama bekerja di krematorium Yayasan Pancaka, sejak 1994 atau sudah 21 tahun, sudah ribuan orang yang dikremasi Karyono dengan cara dibakar. Proses pembakaran jenazah sendiri rata-rata memakan waktu sekitar 3 jam. ”Yang paling cepat 2,5 jam, sedangkan paling lama 3,5 jam. Yang lama itu biasanya jenazah yang diformalin,” jelasnya.

Untuk proses pembakarannya, lanjut dia, biasanya disemprot dengan minyak solar dan pakai mesin. ”Kalau diguyur boros solarnya, Mas,” ucapnya.

Jenazah yang dikremasi, kata dia, paling kecil bayi baru lahir, dan paling tua berumur 102 tahun. ”Datanya saya nggak tahu persisnya, yang pasti warga Semarang,” katanya.

Krematorium Yayasan Pancaka sendiri memiliki pegawai 14 orang. Rinciannya, 4 orang bagian bakar jenazah, 6 petugas keamanan, 1 bagian kebersihan, 1 manajer dan 1 administrasi. ”Bagian bakar jenazah kerap yang keluar masuk. Yang paling lama Pak Jumadi sudah hampir 15 tahunan. Yang baru ada Sumartono, Tono Sunindro dan Sulkani,” ujar warga Sambiroto, Tembalang ini.

Pegawai krematorium lainnya, Jiteng, warga Kedungmundu mengaku sudah bekerja di tempat tersebut sejak 1987. Prosedur yang dilakukan yayasan tempatnya dalam melakukan kremasi biasanya pihak keluarga mendaftar lebih dulu lewat yayasan pelayanan kematian ataupun biro jasa penyedia peti mati.

”Kami akan minta surat kematian dari pihak jasa penyedia peti mati yang akan melaksanakan krematorium. Surat kematian harus jelas dari pihak rumah sakit mana? Meninggal karena apa? Siapa keluarga dan sebagainya,” jelasnya

Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, sebelumnya pernah terjadi ada keluarga jenazah yang ingin melakukan otopsi. ”Dulu ada satu keluarga warga Gang Besen Pecinan meminta abu jenazah ayahnya jangan digiling dulu, katanya mau dilakukan tes DNA. Kabar yang saya dengar rebutan warisan, tapi masalah tersebut tidak melibatkan kami. Di sini kami hanya bagian mengkremasi,” ujarnya

Setelah semua surat-surat beres, selanjutnya digelar prosesi upacara yang dihadiri keluarga dan para pelayat. Berikutnya jenazah dimasukkan ke tempat kremasi dan ditutup rapat, lalu tombol mesin pembakaran dipencet. Setelah itu, keesokan harinya abu jenazah sudah bisa diambil oleh pihak keluarga. ”Tapi sebelumnya abu digiling dahulu lalu dimasukkan plastik putih,” jelasnya.

Jiteng mengaku, selama mengabdikan diri di rumah kremasi itu, ia belum pernah mendapat komplain dari pihak keluarga jenazah yang dikremasi. ”Belum pernah ada komplaian, kami mengikuti permintaan terbaik dari pihak keluarga, sekalipun pengambilan abu jenazah malam kami siap,” kata Jiteng

Ditanya pengalaman mistis, Jiteng tak menampik. Ia kerap mendengar cerita dari rekan sekerjanya yang sering melihat penampakan wanita cantik di pojok gerbang dekat krematorium. ”Hawane (rasanya) merinding pasti ada, cuma ketemu langsung belum pernah Mas. Bagi saya orang mati hidup lagi itu mustahil, itu cuma mitos,” ujarnya.

Selain itu, kata Jiteng, rata-rata karyawan baru bagian pembakaran setiap habis melakukan kremasi, selalu terbayang-bayang wajah jenazah yang dibakar. ”Rata-rata pada susah makan dan tidur hingga berminggu-minggu. Kalau saya sih sudah biasa, Mas,” ucapnya sambil tersenyum. (*/aro/ce1)