PROTES: Warga Kelurahan Pekunden memperlihatkan beberapa material yang kerap menimpa rumah mereka, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
PROTES: Warga Kelurahan Pekunden memperlihatkan beberapa material yang kerap menimpa rumah mereka, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
PROTES: Warga Kelurahan Pekunden memperlihatkan beberapa material yang kerap menimpa rumah mereka, kemarin. (FOTO: EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)

foto B gabung (2)web

PEKUNDEN – Pembangunan sebuah gedung bertingkat di Jalan Pandanaran dikeluhkan warga RT 03 RW 01 Kelurahan Pekuden Semarang Tengah. Protes warga berkaitan dengan minimnya alat keselamatan terutama jaring pengaman yang dipersiapkan oleh pihak kontraktor.

Akibatnya, beberapa rumah warga yang tepat berada di bawah bangunan yang sedang dibangun itu, mengalami kerusakan, karena tertimpa kayu dan sejumlah material dari atas gedung. Meski tidak memakan korban jiwa, namun dengan kejadian yang berulang kali tersebut merugikan warga setempat dan membuat waswas.

Dari keterangan Minarso, warga setempat, hampir sejak dilakukan pembangunan gedung apartemen dan kondominium ini, dia dan keluarganya tidak bisa tidur nyenyak karena sering mendengar suara keras benda jatuh dari atas. Benda jatuh tersebut merupakan material bangunan yang menimpa atap rumahnya. ”Ukuran material yang jatuh itu dari kecil sampai yang ukuran besar seperti besi, helm, kayu dan lainnya. Lha itu yang bikin atap rumah saya pecah dan berlubang,” katanya ketika Radar Semarang menemui di rumahnya, Kamis (19/2).

Dikatakan Minarso, sampai saat ini pihak pemilik bangunan belum mau bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan dari pembangunan gedung. Meskipun dirinya sudah melaporkan kepada pelaksana proyek.

Kejadian yang sama juga dialami oleh warga lain, Lukito. Dirinya mengaku terganggu dengan suara keras hampir setiap hari dan beberapa material yang hampir setiap hari jatuh menimpa rumahnya. ”Mereka kerja 24 jam nonstop, itu bikin keluarga kami waswas dan dihantui rasa khawatir sewaktu-waktu tertimpa benda keras. Kami sudah lapor sama orang proyek tapi tidak ditanggapi. Sebagai orang kecil kami ngaku pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Jika pihak pemilik maupun kontraktor tak memperhatikan dalam hal keselamatan dengan cara memasang jaring pengaman, warga khawatir material yang jatuh ke rumah warga nantinya akan memakan korban luka maupun nyawa.

Selain meminta ganti rugi kerusakan rumah, warga juga berharap pemilik maupun kontraktor memasang alat pengaman yang lebih memenuhi syarat keamanan.

Ketika koran ini melakukan konfirmasi ke pihak pemilik bangunan, Sales Consultant Manager pengembang bangunan tersebut, Harry Setiawan mengatakan pada saat awal pembangunan semua warga sekitar sudah dikumpulkan dan diberikan kompensasi. ”Ya udah kalau kayak gitu warga membuat surat tertulis saja ke pihak kontraktor, karena kita sudah menyerahkan proyek pembangunan apartemen itu kepada kontraktor. Kita merupakan pengembang,” ujarnya secara singkat.

Sementara itu, Camat Semarang Tengah, Bambang Suronggono mengatakan pihaknya akan melakukan pemanggilan terhadap pihak kelurahan dan pengembang apartemen itu. ”Jumat (20/2) pagi setelah apel Pak lurah Pekunden diminta untuk ke rumah warga yang terkena dampak dari pembangunan apartemen itu. Setelah itu, saya akan memanggil pihak pengembang apartemen itu ke kantor kecamatan,” tuturnya. (ewb/zal/ce1)