Muryono. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
Muryono. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
Muryono. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL- Pelaksanaan ujian nasional (unas) online 2015 atau Computer Based Test (CBT) di delapan sekolah percontohan di Kabupaten Kendal dipastikan gagal. Pasalnya, rata-rata sekolah belum memiliki kesiapan cukup. Terutama ketersediaan komputer yang dimiliki sekolah tidak mencukupi untuk pelaksanaan unas online seluruh siswanya.

Delapan sekolah yang menjadi pilot project atau percontohan unas online di Kendal adalah SMP 1 Weleri dan SMP 2 Kendal, SMA 1 Kendal, SMA 1 Boja dan SMA Pondok Pesantren Selamat, serta SMK 2 Kendal, SMK 3 Kendal dan SMK NU 1 Kendal.

Kepala Dinas Pendidikan Kendal, Muryono, menyebutkan dari delapan sekolah tersebut, baru tiga sekolah yang siap. Yakni, SMP 1 Weleri, SMA 1 Boja, SMK 3 Kendal. “Sedangkan lainnya belum siap, makanya kami menginginkan agar pelaksanaan tes CBT dilaksanaan pada tahun depan saja,” katanya kepada Radar Semarang, Kamis (19/2).

Ketersediaan komputer menjadi kendala utama. Sebab, sekolah minimal harus menyedikan 1 komputer untuk 3 siswa peserta ujian. Belum lagi persoalaan ketersediaan listrik yang cukup dan antisipasi jika mendadak ada pemadaman listrik dari PLN, tentu akan mengganggu pelaksanaan unas online.

“Maka dibutuhkan komputer yang cukup dan generator set (genset) untuk antisipasi pemadaman listrik. Sedangkan waktu pelaksanaan sudah tinggal dua bulan lagi, tentu sekolah tidak mampu jika harus melakukan pengadaan komputer dan genset, karena butuh biaya yang mahal,” jelasnya.

Pengadaan komputer dan genset, menurutnya, tidak mungkin memungut biaya dari orang tua siswa. Sebab, hal itu akan membebani dan memberatkan. “Makanya saya minta sekolah-sekolah untuk lebih konsentrasi pada pelaksaaan unas manual menggunakan lembar jawab komputer (LJK),” tandasnya.

Selain sarana dan prasarana, kendala lain adalah persoalan teknis pelaksanaan. Sebab, delapan sekolah yang ditunjuk melaksanakan unas online hingga saat ini belum menerima perangkat lunak (software) CBT. Sehingga guru maupun siswa belum mengetahui teknis aplikasi CBT.

“Teknisnya seperti apa, siswa dan guru belum tahu. Sebab, belum menerima contoh software, sehingga belum pernah ada latihan soal CBT. Latihan yang digelar sekolah justru latihan soal menggunakan LJK,” paparnya.

Padahal unas online sebagai pengganti tes nasional dengan LJK adalah penentu kelulusan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jejang pendidikan yang lebih tinggi. “Makanya dari pada para siswa terpecah konsentrasinya, saya mengarahkan agar sekolah-sekolah memfokuskan siswa untuk LJK saja. Kasihan jika sampai nilai ujian turun, akan berpengaruh untuk tes Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN),” tambahnya.

Kepala Bidang Kurikulum SMP 2 Kendal, Budi Susilo, mengatakan, sekolahnya ditunjuk Dinas Pendidikan (Disdik) untuk melaksanakan unas online. Sejauh ini baru tersedia 30 unit komputer. Padahal ada 211 siswa peserta unas. “Jika perangkat komputer yang harus disediakan 1:3, maka setidaknya kami harus menyediakan 70 unit. Jadi, masih kurang 40 unit lagi,” katanya.

Persoalan yang sama juga dialami SMA 1 Kendal. Dari 110 unit komputer yang harus disediakan, sejauh ini baru ada 80 unit. Sehingga kurang 30 komputer. “Solusinya nanti kemungkinan kami akan pinjam komputer, sehingga tidak membenani siswa,” kata Kepala SMA 1 Kendal, Sunarto.

Dikatakan, saat ini sekolah-sekolah yang mendaftar CBT masih menunggu keputusan dari Balitbang Kemendikbud. Apakah dinyatakan layak atau tidak. “Jika dinyatakan layak, maka kami harus melaksanakan ujian nasional dengan CBT,” ujarnya. (bud/aro)