LEBIH DEKAT : Peserta Djeladjah Moentilan mengunjungi Kelenteng Hok An Kiong Muntilan untuk mengenal sejarah Tempat Ibadah Tri Dharma tersebut. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
LEBIH DEKAT : Peserta Djeladjah Moentilan mengunjungi Kelenteng Hok An Kiong Muntilan untuk mengenal sejarah Tempat Ibadah Tri Dharma tersebut. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
LEBIH DEKAT : Peserta Djeladjah Moentilan mengunjungi Kelenteng Hok An Kiong Muntilan untuk mengenal sejarah Tempat Ibadah Tri Dharma tersebut. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG – Ratusan peserta Djeladjah Moentilan kompak dengan dress code merah menyusuri Kota Muntilan di Kabupaten Magelang dengan berjalan kaki sekitar 2,5 kilometer.

Perjalanan dimulai dari Pucungrejo Muntilan, lalu melewati pecinan dan berhenti di Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Hok An Kiong Muntilan untuk mengenal sejarah kelenteng yang didirikan tahun 1911 itu.

Di kelenteng yang berusia 104 tahun itu, peserta berkomunikasi dengan para pengurus yayasan maupun pengurus kelenteng untuk mendapatkan informasi terkait tempat ibadat umat Konghucu, Tao dan Buddha tersebut. Pihak kelenteng pun memberikan fotokopian yang menjelaskan sejarah kelenteng.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah belajar sejarah dan cagar budaya,” kata penyelenggara serta pegiat Komunitas Kota Toea Magelang (KTM), Bagus Priyana, kemarin.

Pesertanya juga datang dari luar Magelang seperti Klaten, Jogjakarta dan Semarang. Bagus mengaku jelajah kali ini cukup istimewa. Apalagi warga Magelang juga antusias mengikuti jelajah padahal mereka kerap melawati maupun berkunjung ketempat-tempat tujuan jelajah.

“Kunci pokoknya kita menghargai keberagaman melalui sejarah itu, baik suku, agama dan ras tertentu. Kelenteng mewakili Tri Dharma, sedangkan gereja mewakili Katolik,” jelasnya.

Bagus menjelaskan, kelenteng Hok An Kiong juga memiliki hiolo cukup besar yang terbuat dari perunggu dan dibuat tahun 2002 di Tiongkok. Selain itu, kelenteng tersebut juga memiliki gapura dengan tinggi 14,6 meter dan dibangun tahun 2007.

Sementara itu, Sekretaris TITD Hok An Kiong Muntilan, Budhi Hartaja, mengaku gembira kehadiran tamu dari berbagai pemeluk agama. Menurutnya, toleransi umat beragama makin terbangun. Sehingga diharapkan, dapat memberikan kedamaian sebagai warga Indonesia yang memiliki keragaman budaya, adat, suku, ras, maupun agama.

“Sangat senang adanya komunitas pelestari budaya datang ke sini (kelenteng, Red). Kita semua bisa mengenal lebih dekat. Mereka juga datang niatnya sebagai tamu, sehingga jika belum paham dengan tata cara masuk ke kelenteng, kami maklumi. Memang tidak boleh berfoto-foto di tempat sembahyang utama, etikanya seperti itu karena memang harus menghormati bahwa itu tempat ibadat dan bukan tempat untuk berfoto,” ungkapnya.

Setelah itu, peserta melanjutkan perjalanan menuju Pasar Jambu, dan mengunjungi Museum Misionaris, Gereja Paroki St. Antonius Muntilan dan ke kerkop Muntilan. Mereka disambut oleh Romo Kristiono Purwadi yang juga menjelaskan sejarah bangunan SMP Kanisius yang menggunakan bangunan bekas Belanda. Lalu SMA Van Lith Muntilan.

“Jadi, Van Lith itu merupakan Kolese Xaverius yang merupakan pendidikan menengah atas (SMA) yang dikelola oleh romo-romo misionaris,” jelasnnya.

Kegembiraan juga dirasakan peserta Djeladjah Moentilan, Purwo Nur Hidayat. Apalagi sebagai Duta Wisata Kota Magelang tahun 2014, dia mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Purwo tertarik ingin mengikuti kegiatan serupa selanjutnya.

“Ingin ikut lagi, karena acaranya bagus. Cuma sayangnya yang memberi informasi (pemandu, Red) hanya satu orang. Jadi kurang maksimal menjelaskan, dengarnya juga terbatas. Mereka (Kota Toea Magaleng, Red) kan sebuah komunitas, harusnya bareng-bareng juga menjelaskannya, jadi kita bisa cari informasi ke semua pemandu,” tuturnya. (put/lis)