BERSIHKAN LUMUT : Juru Rawat Candi, Pariyanto membersihkan lumut pada batuan Candi Ngempon yang mulai tumbuh subur di musim penghujan tahun ini. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BERSIHKAN LUMUT : Juru Rawat Candi, Pariyanto membersihkan lumut pada batuan Candi Ngempon yang mulai tumbuh subur di musim penghujan tahun ini. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
BERSIHKAN LUMUT : Juru Rawat Candi, Pariyanto membersihkan lumut pada batuan Candi Ngempon yang mulai tumbuh subur di musim penghujan tahun ini. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

BERGAS-Petugas Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah kerja ekstra membersihkan Candi Ngempon di Kelurahan Ngempon, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Pasalnya, musim penghujan menyebabkan cepatnya pertumbuhan lumut, jika dibiarkan tumbuh subur akan menyebabkan candi rapih dan hilang keindahannya.

Salah seorang Juru Rawat Candi, Pariyanto, 39, mengatakan, perawatan candi berbeda setiap musimnya. Paling ribet perawatan candi pada musim penghujan, sebab batuan candi mudah ditumbuhi lumut dan tanaman. Sehingga harus sering dibersihkan setiap hari, agar lumut dan tumbuhan kecil tidak tumbuh. Selain lumut dan tanaman kecil, batuan candi juga kotor karena tanah yang menempel saat ramai kunjungan wisatawan.

“Lumut-lumut ini setiap hari harus dibersihkan. Kalau tidak, batu-batu ini bisa penuh lumut. Nantinya jika masuk musim kemarau, tampilannya bisa berubah jelek karena lumut kering dan meninggalkan noda-noda kehitaman. Selain itu, harus rutin dibersihkan dari tanah yang menempel karena pengunjung ada yang naik ke candi,” kata Pariyanto di sela-sela membersihkan candi yang mulai dipugar pada tahun 1952, Kamis (19/2) kemarin.

Paryanto mengatakan bahwa membersihkan candi peninggalan Kerajaan Hindu abad ke-9 itu tidak bisa sembarangan. Jika salah dalam menggunakan peralatan untuk membersihkan, batuan candi bisa rusak. Apalagi batuan tersebut sudah berumur sangat tua, sehingga mudah rusak karena lapuk di makan usia.

“BPCB mengajarkan untuk membersihkan lumut atau kotoran pada candi menggunakan sikat plastik. Selain itu, menggunakan potongan bambu untuk membersih tanah yang melekat pada relief. Jika terus-terusan disikat juga tidak baik, karena dapat merusak batuan,” ungkapnya.

Pariyanto yang setiap hari bertugas membersihkan bersama teman-temannya mengatakan Candi Ngempon memang jarang dikunjungi. Hanya pada hari libur dan perayaan Galungan saja, candi tersebut ramai dikunjungi. Padahal, masih satu kompleks dengan Candi Ngempon ada destinasi wisata yang menarik yakni petirtaan atau kolam berendam air hangat.

“Mungkin karena lokasinya sangat jauh dan akses jalannya sulit, jadi jarang dikunjungi wisatawan. Candi ini juga masih digunakan untuk perayaan Galungan setahun 2 kali,” kata Pariyanto.

Salah seorang wisatawan di Candi Ngempon, Bowo Pribadi, 40, warga Pudakpayung, Kota Semarang mengatakan bahwa sebenarnya potensi Candi Ngempon cukup bagus, sebab tidak jauh dari jalur utama Semarang-Bawen. Selain itu, kawasan wisatanya tidak hanya candi, ada petirtaan air hangat peninggalan kerajaan Hindu. Ditambah lagi ada aliran sungai yang bisa digunakan untuk para pemancing mania.

“Hanya saja potensi wisata sejarah dan religi itu belum tergarap secara maksimal. Saya juga sering kesini untuk kungkum di petirtaan air hangat. Kalau habis kungkum badan yang pegal-pegal jadi enteng,” kata Bowo. (tyo/ida)