Cek Pantura, Periksa Konstruksi Jembatan

175
PERIKSA : Tim gabungan memeriksa ada tidaknya keretakan Jembatan Grogolan PekalonganTimur yang dibangun 1974. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
PERIKSA : Tim gabungan memeriksa ada tidaknya keretakan Jembatan Grogolan PekalonganTimur yang dibangun 1974. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
PERIKSA : Tim gabungan memeriksa ada tidaknya keretakan Jembatan Grogolan PekalonganTimur yang dibangun 1974. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Survei jalur mudik baik di jalur utama pantura, pusat keramaian, maupun jalur alternatif sudah dilakukan tim gabungan, menjelang Operasi Ketupat Candi tahun 2015 ke depan. Adalah Satlantas Polres Pekalongan Kota, Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pekalongan (Dishubparbud) dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU).

Survei ini dilakukan di beberapa titik rawan kemacetan dan kecelakaan disekitar Kota Pekalongan. Dari alun-alun di Jalan Nusantara, Perempatan Poncol, pertigaan pabrik teh, depan Grosir Setono, perbatasan dengan Kabupaten Batang, Jembatan Grogolan, Ponolawen sampai Tirto perbatasan dengan Kabupaten Pekalongan.

Saat pengecekan di Perempatan Poncol, didapatkan informasi dari masyarakat bahwa banyak kendaraan besar terutama bus yang ke arah Semarang memilih jalur berlawanan saat belok dari Jalan Dr Cipto ke Dr Wahidin. Karena jalan memang lebih besar dan luas, namun hal tersebut tentu membahayakan.

“Banyak bus sering menerobos melawan arus dari kanan, sehingga kerap terjadi kecelakaan. Karena pengendara dari arah Dr Wahidin pasti kaget ada kendaraan besar di depannya,” ucap Bambang, 42, warga Poncol yang punya usaha di sekitar jalan tersebut.

Atas informasi tersebut, tim berencana menertibkan traffic cone yang saat ini sudah dilakukan uji coba. Bahkan ke depan akan dijadikan permanen, walaupun dengan potensi jalan menyempit.

Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Luthfie Sulistiawan melalui Kasatlantas AKP Ady Pratikto menuturkan bahwa survei tersebut merupakan tindak lanjut rapat koordinasi sebelumnya dengan pihak-pihak terkait. Dari hasil survei awal itu, didapati bahwa ada beberapa hal yang harus segera dicarikan solusi demi kelancaran arus saat mudik maupun balik mendatang.

“Salah satunya dengan menambal lobang-lobang jalan yang semakin banyak saat musim hujan ini. Karena akan sangat membahayakan pengendara, jika lubang yang tergenang air, langsung dilewati bisa jatuh,” ucap Pratikto.

Saat tim menyisir jalur pantura dari depan Brimob sampai depan Grosir Setono, masih banyak ditemukan truk-truk besar yang berhenti di sekitar jalan tersebut. Padahal daerah tersebut merupakan daerah terlarang untuk perhentian truk.

“Kami akui Kota Pekalongan memang tidak miliki kantong pemberhentian truk. Makanya, kami akan sosialisasi kepada sopir truk agar jangan parkir di sekitar Pekalongan. Nanti jika ada, akan kami giring ke kantong parkir terdekat. Terutama di Batang dan Kabupaten Pekalongan yang sisi jalannya lebih luas,” lanjut Ady.

Sementara itu, Kepala Dishubparbud Kota Pekalongan, Doyo Budi Wibowo melalui Kabid Lantas M Restu Hidayat yang turut serta dalam kegiatan tersebut mengatakan, secara umum kondisi jalur untuk mudik dan arus balik di Kota Pekalongan cukup bagus. Namun ada beberapa yang perlu menjadi perhatian dan harus dicarikan solusi.

Di antaranya, ungkap Restu, penyempitan jalan di Jembatan Grogolan yang dibangun tahun 1974 tersebut sangat merepotkan. Saat kendaraan dari arah Jakarta-Semarang dan sebaliknya bisa dua jalur bahkan lebih, saat melewati jalan tersebut hanya bisa satu jalur, sehingga kendaraan harus antre.

“Terlebih di Jalan Jendral Sudirman jalurnya padat dan banyak lampu merah. Sehingga kendaraan jalan pelan, setiap waktu bisa rawan kemacetan,” ujar Restu.

Saat pengecekan Jembatan Grogolan, tim belum menemukan tanda-tanda yang menunjukkan kerusakan jembatan. Dari sisi bawah bangunan masih terlihat masih bagus dan kokoh. Belum terlihat adanya keretakan atau tanda-tanda kerawanan lainnya. (han/ida)