Bermodal Awal Rp 65 Ribu, Kini Miliki Mesin Digital

334
DAMPINGI KARYAWAN : Mas Penk saat ditemui di ruang percetakan di kantornya. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
DAMPINGI KARYAWAN : Mas Penk saat ditemui di ruang percetakan di kantornya. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
DAMPINGI KARYAWAN : Mas Penk saat ditemui di ruang percetakan di kantornya. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)

Selama 24 tahun menekuni usaha percetakan, Agus Bambang Subandi justru memilih merekrut karyawan yang putus sekolah. Namun berkat ketekunannya, perusahaan milik pria kelahiran Peekalongan 7 Agustus 1969 tersebut kini menjadi kepercayaan Pemkab Pekalongan. Seperti apa?

FAIZ URHANUL HILAL, Kajen

SUDAH 13 tahun, perusahaan percetakan offset CV Harpha Kencana milik Agus Bambang Subandi atau intim disapa Mas Penk, menyuplai segala kebutuhan administratif Pemkab Pekalongan. Mulai blangko, undangan harian, bendera, umbul-umbul, spanduk, ID cards, leaflat, kalender dan lainnya.

Namun dalam mewujudkan kualitas produknya, Mas Penk, justru merekrut karyawan yang notabene putus sekolah. “Saya punya karyawan sembilan orang. Semuanya putus sekolah. Bukan berarti pendidikan tidak penting. Saya justru ingin menekankan betapa pentingnya pendidikan formal,” kata dia saat ditemui Radar Semarang di kantornya Jalan Rata Keranganyar-Kedungwuni, Kajen.

Bermula dari kegagalannya menuntaskan pendidikan usai jenjang menengah atas, sebagai aktivis pramuka, Gepenk (asal-usul panggilan Mas Penk, red) sangat termotivasi untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri, baik pribadi maupun organisasi.

“Lulus SMA, saya ngelayap. Ingin kuliah dan sempat kuliah di IKIP Veteran Semarang, tapi tidak selesai. Kemudian saya ke Jakarta, kuliah juga, biayanya hasil saya bekerja sebagai kuli bangunan. Tapi gagal juga. Itu antara tahun 1988 sampai 1990,” kisahnya.

Pulang ke kampung halaman menjadi pengangguran. Mas Penk lantas memutar otak untuk bisa hidup di tengah kondisi keluarga yang pas-pasan. Mantan kenek angkutan jurusan Kajen-Kedungwuni itu, akhirnya ingin menekuni percetakan sablon.

Berbekal sejenggit pengalamannya di bidang sablon pada masa SMP, mantan sekretaris OSIS SMP I Karanganyar itu mendirikan percetakan sablon dengan modal Rp 65 ribu.

“Saya dari SMP sudah nyablon. Awalnya saya kepikiran bagaimana menyablon sendiri untuk kebutuhan seperti piagam dan lain-lain di Pramuka. Saya juga sudah makelaran, seperti bikin kaos, saya yang cari tempat bikinnya. Lalu dari harga Rp 4 ribu saya jual Rp 4.200,” kenang alumni SMA I Kajen itu.

Sejak berdiri pada 1990, usaha sablon yang diberi nama Mas Penk itu semakin berkembang. Usai memutuskan mengakhiri masa lajangnya pada 1992, pria penyuka masakan pedas itu akhirnya mendirikan usaha fotografi. “Saat itu, usaha sablon masih langka. Bahkan tergolong rahasia, karena tidak diajarkan kepada banyak orang,” imbuh suami Erna ini.

Sepuluh tahun kemudian, bisnis percetakan sablon mulai berkembang pesat di Kabupaten Pekalongan. Namun kesuksesan Mas Penk, terjadi ketika pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan pindah dari Kota Pekalongan ke Kajen pada tahun 2001.

Kepandaiannya menjalin komunikasi dan mudah akrab dengan banyak orang berbagai kalangan membuat usaha percetakan miliknya Mas Penk berkembang pesat. Mulai mengerjakan skala lokal, hingga ke Papua, Kalimantan dan Sumatera.

Bahkan Pemkab Pekalongan menaruh kepercayaan terhadapnya. Meski dengan keahliannya, sempat dipinang sebagai pegawai honorer di Dinas Pendidikan. Namun, pria dengan hobi trabas motor trail ini memilih tetap menjadi pengusaha.

“Bukannya tidak mau, tapi saya pikir gaji honorer sebulan saat itu sama dengan penghasilan saya nyablon seminggu. Pernah juga ditawari sebagai TU di SMP, tapi saya ingin menjadi orang bebas,” cetus Mas Penk sembari tertawa ringan.

Tak melupakan perjalan panjangnya, Mas Penk pun bertekad merekrut karyawan khusus. Yakni para remaja atau pemuda putus sekolah. “Mereka harus dapat kerja, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun pendidikan formal mereka. Bahkan bisa membuka usaha sendiri. Itu tekat saya,” kata ayah dari Baren, 18; Dimas, 11; dan Caraka, 2.

Ke depan, Mas Penk berharap pemerintah lebih memperhatikan usaha lokal yang menyerap tenaga kerja. Karena di situlah ada perputaran keuangan di daerah tersebut. “Pekerjaan apapun, jika didalami betul-betul, pasti akan menghasilkan. Dikerjakan secara profesional, tidak ada yang tidak bisa. Siap lembur, kerja keras, dan menyelesaikan pekerjaan adalah kepuasan,” kata lulusan Management Bisnis STIE AK Semarang 2014 itu. (*/ida)