30 Perwira Polda Jateng Menganggur

953

”Jabatan untuk Pamen itu di sini sudah penuh. Apalagi bagi yang AKP mau naik ke Kompol, jelas sulit.”
Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Jawa Tengah
Kombes Pol Andhi Hartoyo

MUGASSARI – Banyak Perwira Menengah (Pamen) di lingkungan Polda Jateng yang ’menganggur’. Artinya, mereka tidak mendapat atau tidak menduduki jabatan. Mulai pemilik pangkat Komisaris Polisi (Kompol) dengan simbol Melati 1 maupun Ajun Komisasaris Besar Polisi (AKBP) dengan simbol Melati 2.

Padahal, untuk memperoleh status kepangkatan Pamen diperlukan proses panjang. Tentu saja, bagi pemilik pangkat yang tidak dapat job itu menjadi terkesan pincang dan tidak mengenakkan.

Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Jawa Tengah Kombes Pol Andhi Hartoyo membenarkan atas banyaknya Pamen yang menganggur. ”Iya, terutama Pamen, Kompol maupun AKBP mengalami overload,” kata Andhi, kepada Radar Semarang, Kamis (19/2).

Andhi mengakui, memang banyak Pamen di lingkungan Polda Jateng tidak menduduki jabatan sesuai dengan kepangkatannya tersebut. Dijelaskan, biasanya jabatan Kompol menduduki kepala seksi ataupun kepala unit di tingkat direktorat. Sedang untuk AKBP, biasanya menjabat kepala sub direktorat, staf ahli maupun pengawas penyidik (Wasdik). ”Di Polda Jateng ada kurang lebih 30 Pamen tidak memiliki jabatan,” katanya.

Padahal, di tingkat Satuan Wilayah (Satwil), Kompol bisa menduduki jabatan Kepala Satuan, misalnya Polresta Solo. Sedangkan AKBP di tingkat Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes), Semarang misalnya, menduduki jabatan utama. Di antaranya; Kepala Satuan Reserse Kriminal, Intelkam, Resnarkoba, Pembinaan Masyarakat, Sumber Daya, Sabhara maupun Lalu Lintas.
”Jabatan untuk Pamen itu di sini sudah penuh. Apalagi bagi yang AKP mau naik ke Kompol, jelas sulit. Intinya begini, polisi mau naik pangkat itu harus dapat jabatan dulu,” bebernya.

Menurutnya, untuk menduduki jabatan tertentu dengan syarat naik pangkat itu tidak gampang. Misalnya kenaikan pangkat melalui jalur sekolah, dan harus melewati seleksi ketat, atau dari penghargaan. Bisa pula diusulkan mendapat penghargaan. Namun hal itu juga bersaing ketat. Apalagi di tingkat provinsi.

Nah, para Pamen yang kalah bersaing ini tidak mendapat job atau jabatan. Hal itu merupakan salah satu penyebab terjadinya overload sumber daya. Untuk mengatasi overload tersebut, maka para Pamen itu ditugaskan di luar struktur. Misalnya di Kehutanan, PTP (perkebunan), kereta api, BNK (Badan Narkotika Kota/Kabupaten) maupun BNP (Badan Narkotika Provinsi).

Terpisah, Wakil Koordinator Indonesian Police Watch (IPW) Jawa Tengah, Agus Hermanto, mengatakan, Polda Jateng perlu melakukan evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan. ”Perlu adanya perubahan, misalnya jabatan kapolsek-kapolsek di pantura atau kota-kota, diberi jabatan kompol. Sekarang kan masih banyak berpangkat AKP,” katanya.

Terlebih jabatan kapolsek juga memiliki bebas berat menangani tingkat kriminalitas yang cukup beragam. Kenapa para Pamen yang menganggur? Ini fenomena Pamen di Polda Jateng yang istilahnya pentagon, perwira tanpo nggon (perwira tidak punya jabatan), sering terlihat duduk-duduk saja,” ujarnya. (amu/zal/ce1)