SEMARANG – Kasus jual beli ijazah strata 1 (S1) tanpa kuliah yang merebak di Kabupaten Blora dan Grobogan membuat DPRD Jateng angkat bicara. Dewan mendesak agar polisi mengusut kasus tersebut sampai tuntas. Sebab, kasus itu jelas mencoreng nama baik dunia pendidikan dan merugikan banyak orang.

”Ini kasus sudah sangat meresahkan, jadi harus segera diusut tuntas. Kasihan banyak orang yang dirugikan,” kata Ketua Komisi E DPRD Jateng, AS Sukawijaya. Ia menambahkan, kasus pemalsuan ijazah bukanlah hal baru. Pria yang akrab disapa Yoyok Sukawi tersebut mengaku kasus tersebut sudah hampir terjadi di seluruh Jateng. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Jateng untuk mengusut kasus tersebut. ”Kasus seperti ini memang banyak terjadi di Jateng,” imbuhnya.

Politisi Partai Demokrat ini menambahkan, untuk mengantisipasi pemalsuan ijazah ia berharap agar pemerintah mulai melakukan terobosan. Salah satunya dengan menjadikan ijazah online. Hal ini penting, agar kasus ijazah palsu bisa diantisipasi secepatnya. ”Jadi nanti ketika misalnya ada yang mendaftar guru atau dosen bisa dicek ijazahnya di online. Apakah benar ijazah itu palsu atau tidak. Ini kan bisa memperjelas status ijazah sang pemiliknya,” tambahnya.

Selain ijazah, dia mengusulkan piagam harus dibuat online. Sebab, diakui atau tidak saat ini piagam masih menjadi salah satu penambah poin bagi guru atau dosen. ”Kalau piagam itu kan banyak yang fiktif, karena setiap ada kegiatan banyak yang jual stempel. Jadi harus diusut tuntas,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dunia pendidikan di Jateng dilecehkan dengan adanya fenomena dugaan jual beli ijazah S1 tanpa kuliah. Mereka menyediakan jasa pembelian ijazah S1 keguruan dengan mematok harga antara Rp 7 juta hingga Rp 12,5 juta. Hanya butuh waktu 1 sampai 2 bulan tanpa melewati proses kuliah, pembeli langsung bisa mengikuti wisuda di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAI) yang berada di daerah Rawa Pondok Kopi Duren Sawit, Jakarta Timur.

Modus bisnis ijazah abal-abal itu diduga dilakukan dengan cara membuka cabang kuliah di kabupaten/kota. Seorang dosen berinisial JMR berperan mencari pembeli. Sasarannya para guru yang belum memiliki ijazah S1. Di Kabupaten Blora sendiri, mereka menyewa tempat di SMK Al Balad Jati, Blora. (fth/ric/ce1)