biksuWEB

Oleh: Ven. Chao Kun Bhiksu Hui Siong

Bertabur wanginya bunga mei hua pada musim dingin
Semerbak wanginya kebajikan dari hati batin nurani nan suci
Paduan wanginya kesucian dan bunga mei hua sebagai suatu kebersamaan
Di dalam menemukan kesucian hati batin di depan para Buddha

PERGANTIAN tahun menyambut musim semi merupakan suatu tradisi umat Buddha Tionghoa menyambut keberhasilan dan kesuksesan di tahun berikutnya. Pada hari besar tradisi umat Buddha, jika memiliki perenungan yang tepat, maka merupakan suatu berkah yang termulia di dalam kehidupan kita.

Suatu tradisi yang unik, etnis Tionghoa di seluruh dunia akan menyambut musim semi tahun baru Imlek 2566, menyambut dewa rezeki dengan sajian yang bertumpuk-tumpuk, semoga menyambut tahun baru yang penuh dengan keberhasilan, penuh berkah serta kekayaan yang berlimpah-limpah.

Sebagai seorang umat Buddha Tionghoa, sudah selayaknya kita berintrospeksi menyambut hari-hari tradisi yang diyakini oleh umat Buddha. Suatu tradisi yang bersifat duniawi menyambut dewa rezeki yang tidak kekal ini, maka kita sangat membutuhkan sebuah pelatihan diri di luar duniawi dalam menanam karma baik, berbuat kebajikan yang penuh dengan kesucian kemurnian dengan keyakinan Buddha Dharma.

Di dalam keyakinan beragama Buddha, pelatihan diri melatih tiga kekayaan kebajikan dan empat permata berharga adalah sebuah dasar yang utama dalam menyambut tahun baru Imlek.

Kekayaan kebajikan adalah dasar utama di dalam menjalani hidup berdasarkan filsafat Tionghoa, mengajarkan bagaimana untuk selalu bersyukur, membalas budi dan mensyukuri apa yang ada, dengan demikian di dalam kehidupan modern seperti sekarang ini barulah dapat menjadi seorang tauladan yang patut dicontoh.

Kekayaan kebajikan yang pertama adalah kesungguhan dalam menaklukkan kilesa kemelekatan di dalam kehidupan, terkadang kita menjadi lupa diri saat mendapatkan sesuatu, dengan demikian sudah seharusnya kita mempedulikan orang-orang di sekitar kita.

Saat kita kehilangan apa yang kita miliki, seharusnya kita mampu menggunakan kebijaksanaan (wisdom) untuk melihat kondisi yang terjadi sebagai sebuah anicca yang tidak kekal di dalam kehidupan, dengan demikian maka kita baru dapat melepaskan yang kita sayangi dengan hati bahagia.

Selanjutnya kekayaan maitri (cinta kasih) adalah sebuah harta yang dimiliki oleh seorang yang sukses dalam kehidupan, karena mereka mempunyai belas kasih dan mampu memberikan pertolongan untuk orang lain, mampu memaafkan orang lain maka nasib orang tersebut akan dilindungi dengan kebajikan dari maitri-karuna yang dimilikinya.

Kekayaan yang terakhir adalah kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan manusia mampu memahami adanya hukum sebab-akibat, maka di dalam kehidupan sudah seharusnya kita menjalin hubungan yang baik dengan banyak orang. Di dalam kehidupan bersama di lingkungan masyarakat, manusia pasti mempunyai jodoh yang baik dan juga yang tidak baik, sehingga menimbulkan permusuhan.
Untuk itu, setiap orang harus mempunyai kekuatan pengendalian diri sendiri sehingga mampu melepaskan segala dendam dan iri hati untuk mencapai kepribadian manusia yang seutuhnya.

Empat Permata
Selanjutnya adalah empat permata berharga. Pertama, dengan tekun ke vihara untuk membacakan sutra parita suci, melafal nama Buddha dan berlatih meditasi, sehingga mampu menyucikan diri di dalam kehidupan sehari-hari, harmonis di dalam pergaulan dan mencapai kebahagiaan dunia.

Kedua, menjalin hubungan baik dengan semua orang, sehingga di dalam kehidupan mampu memperoleh kekayaan yang sejati dari karma baik dan usaha yang benar, menjauhkan diri dari bencana dan kesulitan duniawi.

Ketiga, menjalankan pelatihan kemoralan (sila), sehingga mampu menumbuhkan hati yang suci, maka di dalam kehidupan ini akan terhindar dari segala kesulitan bencana, hidup dengan segala keagungan dan dihormati oleh banyak orang.

Yang keempat, bertutur kata baik dan bersabar, sehingga di dalam kehidupan kita akan bertemu dengan orang yang bersedia membantu dengan tulus. Di dalam kehidupan akan terhindar dari segala penyakit dan kesusahan serta umur panjang.

Tiga kekayaan kebajikan dan empat permata berharga adalah ”Tujuh Rezeki Agung” yang memberikan umat manusia berkah, terutama pada perayaan musim semi tahun baru Imlek.

Jika kita mampu menanam karma baik, datang ke vihara (tempat ibadah) ikut serta dalam ritual keagamaan, dan berbuat kebajikan, bertobat atas karma masa lampau disertai dengan tekad suci di depan altar Buddha, maka para Buddha dan Bodhisattva akan selalu memberikan berkah kepada umat manusia.

Setiap waktu adalah waktu yang baik. Setiap hari adalah hari yang baik. Setiap tahun berkah akan selalu datang bagi mereka yang menjalankan kebajikan, maka di masa yang akan datang akan mencapai ke Bodhian, dan kelak mampu melangkah di jalan menuju penerangan agung menjadi Buddha. (*/aro/ce1)

Sekretaris Jenderal WBSC
Pimpinan Vihara Mahavira Graha Semarang