Petani Curigai Peredaran Pupuk Oplosan

143
PANEN PADI : Sebagian petani Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang saat melakukan panen padi beberapa waktu lalu. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PANEN PADI : Sebagian petani Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang saat melakukan panen padi beberapa waktu lalu. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
PANEN PADI : Sebagian petani Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang saat melakukan panen padi beberapa waktu lalu. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

TUNTANG—Sejumlah petani di Desa Sraten dan Jombor, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, mencurigai adanya peredaran pupuk oplosan. Menyusul adanya peredaran pupuk non subsidi menyerupai pupuk bersubsidi yang harganya murah, namun tidak ngefek terhadap tanah dan tanaman.

Dari informasi yang dihimpun Radar Semarang dari sejumlah petani di Sraten, kemarin (17/2), para petani harus mencari sendiri pupuk di pasar. Pasalnya, KUD sudah tidak mau menanggung risiko. Sehingga mempersilahkan petani membeli pupuk ke pengecer. Disamping itu, pupuk bersubsidi juga sering terlambat datangnya.

Syukur, 69, petani di Desa Sraten mengatakan jika keterlambatan distribusi pupuk menjadi alasan dirinya membeli pupuk non subsidi. Harga terpaut Rp 30 ribu. Pupuk bersubsidi di pengecer seharga Rp 130 ribu, sedangkan pupuk non subsidi mirip Phonska seharga Rp 100 ribu. Tapi setelah dipakai, selang 5 hari tidak ada perubahan sama sekali.

“Saya pikir itu adalah Phonska, pupuk bersubsidi dari pemerintah. Setelah saya amati lebih jauh, ternyata tidak. Di karung tertulis Phoska diproduksi salah satu pabrik dari Gresik. Tapi asli atau palsunya tidak tahu. Karena pupuk ini menyertakan izin Menteri Pertanian di bungkus karungnya,” katanya.

Dijelaskan bahwa ada perbedaan antara Pupuk Phonska dengan Phoska. Pupuk Phoska lebih keras, warnanya seperti genting. Jika diambil dengan tangan, pupuknya tidak menempel di tangan. Itu kebalikan dari pupuk Phonska. “Jika sudah mulai tandur, pupuk berapapun harganya akan dibeli. Karena bertani merupakan mata pencaharian warga,” tandasnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui telepon, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Perhutanan (Distanbunhut) Semarang, Triyoga, mengaku kaget dengan beredarnya pupuk non subsidi yang harganya di bawah pupuk bersubsidi. Terkait hal ini, Triyoga akan melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk memantau peredaran pupuk di kalangan petani.

“Kalau merek yang dimaksud (Phoska) memang ada, tapi kalau harganya di bawah pupuk bersubsidi, ini patut dicurigai. Terus terang kami kaget jika benar ada hal semacam itu di kalangan petani,” pungkasnya. (abd/ida)