Pastikan Tak Gunakan Obat Buvanest Spinal

134
Bupati Mundjirin. (DOK/RADAR SEMARANG)
Bupati Mundjirin. (DOK/RADAR SEMARANG)
Bupati Mundjirin. (DOK/RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Bupati Semarang Mundjirin kepada masyarakat menyampaikan bahwa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ambarawa dan Ungaran milik Pemkab Semarang dipastikan tidak ada obat anestesi Buvanest Spinal produksi Kalbe Farma. Menyusul munculnya keresahan dan ketakutan masyarakat berobat ke rumah sakit plat merah, akibat adanya kesalahan produksi obat anestesi Buvanest Spinal produksi Kalbe Farma.

“Saya sudah perintahkan kepada semua RSUD untuk menarik obat tersebut. Ternyata dua RSUD tersebut, tidak memakai produknya Kalbe Farma. Rumah sakit pakai merek Bupivakain dari produsen lain,” kata Bupati Semarang Mundjirin, Kamis (18/2) kemarin.

Selain rumah sakit plat merah, bupati juga menginstruksikan penarikan produk Buvanest Spinal di RS swasta. Termasuk rumah sakit Bina Kasih Ambarawa milik Bupati Semarang sendiri. Bupati berharap masyarakat tidak perlu khawatir untuk berobat ke rumah sakit.

“Dari dulu, rumah sakit Bina Kasih tidak pernah memakai Buvanest Spinal. Dari pantauan saya, dokter anestesi di Kabupaten Semarang hanya ada dua dan mereka tidak memakai obat tersebut. Rumah sakit juga akan mengikuti arahan dokter agar tidak memesan obat jenis tersebut,” tutur bupati yang juga berprofesi sebagai dokter.

Bagi Mundjirin, kasus tersebut sangat memprihatinkan. Maksud hati ingin berobat, malah berujung kematian. Sebagai kepala daerah yang berprofesi dokter, Mundjirin sangat memahami persoalan tersebut. Baginya, kejadian tersebut bukan mutlak kesalahan dokter, mengingat dokter juga tidak mengetahui jika kandungan Buvanest Spinal bukan seperti biasanya.

“Kalau salah memasukkan obat dalam kemasan itu bukan salah dokter, itu salahnya produsen. Tapi tentu ini menjadi pembelajaran bagi dokter, khususnya dokter anestesi untuk lebih memerhatikan obat yang diberikan ke pasien. Jika memang isi kemasannya tidak seperti biasanya, tanyakan lebih dulu sebelum diberikan ke pasien,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Bidang Humas RS Ken Saras, Elsih Istanti menjelaskan rumah sakitnya juga tidak pernah menggunakan obat anestesi Buvanest Spinal.

Untuk diketahui, dua pasien RS Siloam, Karawaci, Tangerang meninggal dunia setelah dibius menggunakan Buvanest Spinal yang ternyata berisi asam traneksamat yang bekerja untuk mengurangi pendarahan. Diduga ada kesalahan isi dalam obat tersebut. (tyo/ida)