SEMARANG – DPRD Jateng mendesak agar pemprov bertindak tegas menghentikan pemotongan hewan produktif. Sebab tindakan tersebut akan mengurangi jumlah populasi hewan di Jateng seperti sapi, kerbau, serta unggas.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng, Yudhi Sancoyo mengatakan, populasi sapi dan kerbau di Jateng terus mengalami penurunan. Salah satunya, karena pemotongan hewan yang masih produktif. Seperti sapi yang masih usia muda atau sedang hamil. ”Harus ada kebijakan untuk melarang pemotongan hewan produktif. Ini untuk menjaga populasi hewan di Jateng,” katanya.

Ia mencontohkan, di Kabupaten Blora misalnya populasi sapi semakin menyusut. Dari jumlah totalnya yang mencapai 240 ribu ekor sapi. Padahal, selama ini di Blora merupakan sentra pusat sapi di Jateng. ”Jika ini terus dibiarkan, populasi sapi akan terus menurun,” imbuhnya.

Pemprov Jateng diminta untuk turun tangan dalam mengatasi masalah penurunan populasi sapi di Jateng. Di Blora misalnya penurunan sapi karena perhatian pemerintah masih minum. Karena nilai jual yang kurang tinggi, akhirnya banyak petani yang enggan memelihara sapi. ”Padahal jika ini diberdayakan hasilnya pasti bagus. Karena di Blora sapi merupakan rojo koyo,” tambahnya.

Dewan juga berharap ada pembatasan impor sapi di Jateng. Pemerintah didesak untuk lebih mengoptimalkan sapi jenis lokal yang dinilai lebih berkualitas dibandingkan sapi impor. Sapi impor lanjutnya, banyak yang hanya bisa berproduksi sampai dua kali. ”Harus ada perhatian terhadap sapi lokal, karena saya melihat lebih berkualitas dan sudah terbukti cocok dengan kondisi cuaca di Jateng,” tambah anggota Komisi B DPRD Jateng, Riyono.

Ia menambahkan, populasi sapi putih lokal selama ini bersentra di Kebumen. Ke depan harapannya, populasi sapi lokal harus lebih ditingkatkan. Karena selain bisa memasok kebutuhan daging juga bisa mengangkat perekonomian masyarakat pedesaan. ”Selama ini sapi banyak dipelihara di daerah pedesaan. Jika ini diperhatikan, perekonomian masyarakat bisa meningkat,” tambahnya. (fth/ric/ce1)