DILANTIK: Ketua Koni Kendal Supriyadi dan segenap pengurus Koni Kendal Periode 2014-2018 dilantik di Pendopo Kantor Bupati Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
DILANTIK: Ketua Koni Kendal Supriyadi dan segenap pengurus Koni Kendal Periode 2014-2018 dilantik di Pendopo Kantor Bupati Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
DILANTIK: Ketua Koni Kendal Supriyadi dan segenap pengurus Koni Kendal Periode 2014-2018 dilantik di Pendopo Kantor Bupati Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL – Program kerja Komite Olahraga Nasional Indonesia (Koni) Kendal dipastikan terhambat. Pasalnya, tahun ini Koni Kendal tidak mendapatkan jatah anggaran hibah dari APBD Kendal. Bupati Kendal Widya Kandi Susanti mengatakan, prosedur hibah yang bersumber dari APBD harus diajukan melalui mekanisme RAPBD. Hal itu sesuai Peraturan Dalam Negeri (Permendagri) nomor 32 tahun 2011 yang diubah dalam Permendagri nomor 39 tahun 2012.

“Jadi jika Koni ingin mendapatkan dana hibah, sedianya mengajukan proposal melalui Pemkab Kendal untuk nantinya diusulkan dalam RAPBD. Proposal harus diajukan sebelum pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS),” kata Widya disela pelantikan pengurus Koni Kendal di Pendopo Pemkab Kendal, Rabu (18/2).

Sedangkan pada APBD Kendal 2015, pengurus lama Koni Kendal tidak mengajukan dana hibah kepada Pemkab Kendal. Mestinya kalau minta dana hibah semestinya diajukan pada saat pembahasan RAPBD 2014. “Kalau sekarang ini sudah tidak bisa, karena APBD 2015 sudah disahkan,” imbuhnya.

Ketua Koni Kendal, Supriyadi mengakui tahun ini pengurus Koni tidak mengajukan proposal dana hibah ke Pemkab Kendal. Hal itu dikarenakan pengurus lama tidak mengajukan dana bantuan hibah. “Saya tidak tahu alasannya apa, karena itu kebijakan pengurus lama bukan kami,” katanya.

Meski tidak mendapatkan hibah, pihaknya akan tetap menyusun proposal kegiatan Koni untuk APBD 2016. Sedangkan tahun ini, ia akan memaksimalkan program kerja melalui iuran anggota dan dana dari simpatisan maupun instansi-insatan swasta. “Tidak masalah, kami tetap berusaha agar semua program kerja yang menjadi rekomendasi dalam pemilihan Ketua Koni bisa terwujud,” tambahnya.

Supriyadi menambahkan kebutuhan operasional Koni Kendal pertahun mencapai Rp 400-500 juta. Hal itu belum termasuk kegiatan maupun anggaran untuk cabang olahraga (cabor). “Kalau cabor-cabor sementara ini didanai melalui APBD yang ditangani oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora),” tambahnya.

Ketua Koni Jateng, Hartono mengatakan potensi olahraga di Kendal sebenarnya sangat tinggi. Tapi sampai saat ini Kendal masih tertinggal dengan daerah lain. terbukti pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2013 yang digelar di Banyumas, Kendal menduduki peringkat 23. “Masih tertinggal dengan kota dan kabupaten lainnya,” katanya.

Ia berharap ke depan Koni sebagai induk organisasi olahraga bisa mengatasi masalah keterpurukan Kendal. Paling tidak bisa menduduki peringkat 15 besar pada Porprov di Tegal 2018 mendatang. “Pengurus harus memiliki semangat dan ketahanan mental,” tambahnya. (bud/fth)