BPOM Bongkar Pabrik Mi Formalin

167
RUGIKAN KONSUMEN : Petugas BPOM Semarang mengambil mi yang dibuat dengan campuran formalin di Banjarnegoro Mertoyudan, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
RUGIKAN KONSUMEN : Petugas BPOM Semarang mengambil mi yang dibuat dengan campuran formalin di Banjarnegoro Mertoyudan, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
RUGIKAN KONSUMEN : Petugas BPOM Semarang mengambil mi yang dibuat dengan campuran formalin di Banjarnegoro Mertoyudan, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID- Peredaran mi berformalin di Magelang benar-benar mengkhawatirkan. Kemarin (18/2) Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Semarang menggerebek sebuah pabrik mi basah yang mengandung formalin di Dusun Manggisan Desa Banjarnegoro Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang.

Tim datang sekitar pukul 09.30 pagi. Saat itu, tiga karyawan pabrik sedang memproduksi mi berwarna kuning itu. Mengetahui petugas datang, sontak kegiatan produksi yang baru setengah jalan terhenti. Petugas kemudian melakukan penggeledahan. Enam orang petugas yang datang kemudian menemukan serbuk yang diduga merupakan formalin.

“Ada 20 kilogram serbuk yang kita amankan,” kata petugas BPOM Semarang, Ari Wijayanti. Untuk memastikan kandungan formalin di dalam mi itu, petugas kemudian melakukan pengetesan. “Dari sampel yang kita tes mi tersebut benar-benar mengandung formalin,” katanya.

Petugas kemudian menyita 220 kilogram mi basah tersebut. “Kita akan bawa sebagai barang bukti,” bebernya.
Tiga pegawai kemudian dimintai keterangannya oleh tim. Hasilnya diketahui jika penanggung jawab pabrik mi tersebut adalah Tls, 53, warga Kota Magelang. “Dia residivis kasus yang sama dan pernah kita proses 2012 lalu,” ungkap Ari.

Hingga berita ini ditulis, tersangka Tls, tak juga datang ke pabrik untuk memberikan keterangan. Padahal sebelumnya dia sudah dikontak oleh petugas dan menyatakan segera hadir.

“Kita akan layangan surat panggilan,” ungkapnya. Dari hasil pemeriksaan sementara setiap harinya pabrik itu memproduksi 250 kilogram mi. Namun, pihaknya menengarai produksinya lebih dari itu. “Dari pembukuan jumlah produksinya lebih,” tuturnya.

Usai diproduksi, mi kemudian diambil oleh sejumlah pedagang di wilayah Kabupaten dan Kota Magelang. “Untuk wilayah lain kita belum ketahui itu. Karena pemilik belum bisa kita periksa,” ungkap dia.

Menurut Ari, terbongkarnya pabrik mi formalin ini bermula dari hasil investigasi yang dilakukan oleh timnya. Setelah dilakukan pengembangan akhirnya mereka menemukan pabrik yang dibangun di halaman belakang sebuah rumah mewah itu.
“Kita sudah investigasi cukup lama,” ungkapnya.

Pihaknya akan segera melakukan pemberkasan kasus ini. Tim yang terdiri dari penyidik pegawai negeri sipil akan memasang pasal 36 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan. Ancamannya lima tahun penjara.

Dhian, 29, salah satu warga setempat mengaku pabrik mi tersebut sudah beroperasi sejak lama. Namun, warga merasa terganggu oleh aktivitasnya hingga akhirnya produksinya dihentikan. “Asapnya mengganggu warga bikin batuk,” kata dia.

Dia sendiri tidak mengetahui jika aktivitas pembuatan mi tersebut kembali dilakukan. “Tahunya tadi pas ada penggerebekan,” terangnya. (vie/lis)