KHUSYUK: Seorang umat Tridharma saat berdoa tutup tahun di depan altar Kelenteng Tay Kak Sie tadi malam. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
KHUSYUK: Seorang umat Tridharma saat berdoa tutup tahun di depan altar Kelenteng Tay Kak Sie tadi malam. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
KHUSYUK: Seorang umat Tridharma saat berdoa tutup tahun di depan altar Kelenteng Tay Kak Sie tadi malam. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

PURWODINATAN – Perayaan tahun baru Imlek 2566 di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang tadi malam berlangsung meriah. Sejak sore ratusan umat dan warga sudah berdatangan ke kelenteng tua tersebut.

Perayaan Imlek tadi malam juga meriahkan aksi drum band, naga doreng, dan barongsai personel TNI Yon Arhanudse 15 Kodam IV/Diponegoro. Dua barongsai warna merah dan putih meliuk-liuk dengan indahnya.

Humas Kelenteng Tay Kak Sie, Gunawan, mengatakan, selepas pentas barongsai, pada pukul 00.00 tadi malam dilakukan sembahyang bersama di dalam kelenteng. Sembahyang tersebut sebagai tanda pembukaan tahun kambing kayu, dan tutup tahun kuda kayu.

”Di tahun kambing kayu ini semoga masyarakat tetap sejahtera, damai, dan usahanya lancar, khususnya Kota Semarang jangan sampai ada musibah dan harapannya seluruh warganya bisa lebih sejahtera, dan banyak rezeki,”harapnya.

Dia menyebutkan, pada shio kambing kayu lebih banyak pantangan. Untuk menghindari bencana yang memiliki jiong atau ketidakcocokan dengan tahun kambing 2566, ia memiliki saran khusus.

”Khusus yang bershio kambing, kerbau, ayam, kelinci, babi dan ular untuk keperluan Poo Un saya sarankan untuk menyediakan 6 butir telur ayam mentah, daging babi dipotong-potong sesuai umur, segenggam kacang hijau, kedelai kuning, dan beras putih, yang terakhir sepasang lilin merah. Juga teh liau atau teh kering, twa kiem/hio swa dan minyak. Semua perlengkapan itu dibawa sendiri,” jelas Gunawan.

Gunawan menambahkan, untuk pagi ini (19/2), akan digelar acara silaturahmi antarkeluarga istilahnya sungkeman ke yang lebih tua.

Gunadi Hadinata, warga Pecinan Semarang, mengatakan, sembahyang menggunakan lilin dan dupa menyala merupakan simbol penerangan. ”Supaya anak saya dan keluarga jalan hidupnya selalu diberi penerangan oleh Dewi Kwan Im,” kata Gunadi didampingi anaknya, Enrico.

Dia menyebutkan, kedatangannya ke Kelenteng Tay Kak Sie juga sebagai bentuk kewajiban kepada tiga dewa yang ia urus. ”Saya terpilih sebagai pengurus Dewa Kwang Kong, Dewa Co Su Kong, dan Dewa She Hong Loya di Kelenteng Tay Kak Sie. Selain sembahyang, kedatangan saya sebagai bentuk kewajiban mengurus tiga dewa itu. Pada malam Imlek dan pagi hari nanti kami sekeluarga juga akan sembahyang lagi, namanya sembahyang tahun baru Imlek,” bebernya.

Dia berharap, pemerintahan di tahun baru Imlek 2566 kali ini agar lebih stabil. ”Saya mengamati pemerintahan atas banyak kacaunya, kita ingin semua sejalan. Semoga dengan hujan yang turun malam ini (tadi malam) sebagai simbol pembawa berkah. Selain itu, semoga banyak rezeki yang mengalir, negara aman, tidak ada gangguan apa pun, ekonomi juga selalu stabil,” harapnya.

Istri Gunadi, Onny Liliani, manambahkan, dalam sembahyang ia dan keluarganya selalu minta doa keselamatan. Menurutnya, ibadah itu perlu diterapkan sejak dini.

”Kami selalu berdoa minta selamat dalam sembahyang, tidak minta lebih. Kami bersyukur semua doa yang dipanjatkan sudah dikabulkan. Kedatangan kami juga untuk mengajari anak dalam ibadah sejak dini. Agama itu penting, kami rasa semua agama juga harus mendidik anak sejak dini,” kata Onny.

Onny menyebutkan, tadi malam, ia dan keluarganya hadir dan sembahyang ke-10 dewa. ”Tadi sembahyang sama 10 dewa bareng keluarga, yang terakhir sama Dewa Thian Kong,” ujar Onny. (mg21/aro/ce1)